Menyikapi Revenge Travel

- 14 Desember 2021, 21:41 WIB
Foto penulis./dok.pribadi
Foto penulis./dok.pribadi /

Efek dari kebijakan relaksasi adalah memunculkan reaksi sosial - masyarakat mencari kepuasan yang sempat tertunda - bentuknya bisa revenge travel (wisata “balas dendam”). Sehebat apapun dampak pandemi, ia tak akan mampu menghentikan kebutuhan leisure (santai) kita. Dan kinilah saatnya momentum ledakan leisure itu akan terjadi.

Dengan vaksinasi yang digenjot pemerintah dan badai second wave Covid-19 sudah berangsur mereda, maka momentum revenge travel ini sudah tampak terjadi akhir-akhir ini.

Baca Juga: Rizal Ramli dan Akademisi Keheranan terhadap PDIP: Kok Takut Kompetisi Yang Fair Sih? Ada Apa?

Relaksasi PPKM terutama menjelang momen Nataru (Natal dan Tahun Baru) diprediksi akan mendorong masyarakat berbondong-bondong melakukan revenge travel.

Artinya, akan ada permintaan perjalanan yang sangat tinggi yang sebelumnya tidak tersalurkan karena kebijakan pemerintah maupun keamanan setempat. Masyarakat membanjiri destinasi wisata.

Mal kembali ramai oleh mereka yang just window shopping. Gerai kopi kembali dipenuhi oleh anak-anak milenial nongkrong. Fenomena kemacetan hampir semua kawasan wisata adalah menjadi fenomena umum kekinian.

Bagi para inovator bisnis wisata, fenomenal ini merupakan reaksi intuitif yang membutuhkan pendekatan psycho-marketing untuk mampu mengakomodir hasrat berlibur pelancong domestik.

Produk wisata yang dilaunching mestinya didesain sesuai dengan kondisi para pelancong berstandar healthy tourism yang berkonsep NEWA (Nature, Eco, Wellness, Adventure) serta memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Pegiat wisata pun dituntut fokus pada inovasi bisnis wisata dalam menghadapi perilaku anomali wisatawan ini. Wisatawan revenge travel ini termasuk kelompok pencari kepuasan yang tergesa-gesa, sehingga apa pun dikonsumsi, dan siap membayar harga mahal, misalnya biaya PCR yang mahal tetap dibeli demi sampai ke destinasi.

Baca Juga: Wagub Jabar Tegaskan Pesantren Miliknya Tak Ada Kaitan dengan Boarding School Milik Herry Wirawan

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network