Buzzer Pembuat Resah, Islam Solusi Kenyamanan Negeri

- 5 November 2019, 16:04 WIB

MEDAI sosial menjadi wadah berkumpulnya para buzzer, khususnya saat Indonesia memasuki 'musim politik'. Istilah buzzer ini lagi viral di Indonesia. Pertanyaannya, apa itu buzzer? Buzzer adalah kata Bahasa Inggris yang berarti lonceng atau alarm. Lonceng atau alarm ini membantu memanggil dan mengumpulkan orang untuk melakukan sesuatu. Buzzer ini biasa disebut sebagai pendengung, penggaung atau penggonggong.

Informasi bohong atau hoax yang berseliweran di media sosial Facebook, Twitter, Instagram, serta pesan Whatsapp salah satunya adalah akibat ulah para buzzer. Mereka tidak bertindak sendirian, tapi berkelompok yang terorganisir. Mereka bergerak dan digerakkan layaknya pasukan di dunia siber.

Penggunaan pasukan siber terjadi di dunia perpolitikan di Indonesia. Pemerintah dan partai-partai politik Indonesia mengerahkan serta membiayai pasukan siber alias buzzer di media sosial untuk memanipulasi opini publik. Demikian hasil penelitian para ilmuwan dari Universitas Oxford Inggris baru-baru ini. Pengerahan buzzer oleh pemerintah Indonesia itu diulas dua ilmuwan Oxford, Samantha Bradshaw dan Philip N Howard dalam laporan berjudul "The Global Disinformation Order, 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation".

Laporan itu mengatakan bahwa pemerintah dan partai-partai politik di Indonesia menggunakan buzzer untuk menyebarkan propaganda pro pemerintah atau partai, menyerang lawan politik, dan menyebarkan informasi untuk memecah-belah publik. Informasi yang disebarkan merupakan informasi yang menyesatkan publik dan memperkuat pesan dengan terus menerus membanjiri media sosial dengan tagar. Para Buzzer tersebut dibayar kisaran harga Rp 1 juta sampai Rp 50 juta.

Peranan buzzer dinilai kian melambung saat Pilpres 2019 yang diisi oleh calon Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Usai kemenangan Jokowi, buzzer kini pun masih menjadi perbincangan tersendiri.

Keberadaan para penggaung tak jarang membuat resah. Kebanyakan dari mereka yang bekerja untuk berbagai kepentingan politik tertentu membela habis-habisan kepentingan politiknya. Sebaliknya, mencerca sepuas-puasnya yang menjadi lawan politik mereka. Saling cerca antarpenggaung politik tersebut membanjiri dan mengotori lini masa medsos.

Dalam sistem sekuler-demokrasi ini, banyak orang yang melakukan perbuatan tanpa melihat hukum halal dan haram demi meraih kekuasaannya. Bahkan, para pemimpin negeri inipun untuk meraih kekuasaannya dengan berbohong atau menyebarkan berita hoax yang dibantu oleh para buzzer sehingga bisa menjatuhkan lawan politiknya.

Hoax merupakan kabar bohong yang sudah direncanakan oleh penyebarnya. Dengan tujuan untuk memberikan pengakuan atau pemahaman yang salah. Pada hoax ada penyelewengan fakta sehingga menjadi menarik perhatian masyarakat.

Dalam Islam, kebohongan secara umum hukumnya haram. Termasuk di dalamnya membuat berita bohong, adalah dosa. Begitu pula menyebarkan berita bohong itu. Berbicara bohong dinyatakan sebagai salah satu karakter orang munafik. Hal itu menunjukkan bahwa berbohong merupakan dosa besar. Dalam hal ini, membuat tulisan bohong sama dengan berbicara bohong. Membenarkan kebohongan penguasa adalah haram. Pelakunya tidak bisa masuk surga dan tidak diakui sebagai golongan Nabi SAW. Apalagi berbohong untuk mendukung kebohongan penguasa atau membantu kezaliman penguasa. Tentu dosanya lebih besar lagi.

Halaman:

Editor: Kiki Kurnia


Komentar

Terkini

Cadangan Uang

9 Juli 2020, 21:17 WIB

“Sense of Crisis” ala Islam

9 Juli 2020, 08:58 WIB

Menyoal PHK di Tengah Wabah Pandemi

8 Juli 2020, 09:23 WIB

Adakah Inflasi dalam Islam?

7 Juli 2020, 14:27 WIB

Menjadi Produktif di Masa Pademi

5 Juli 2020, 16:02 WIB

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X