Cakrawala Customer Service Zaman Now

- 6 Desember 2019, 20:22 WIB

Judul: Humanoid Communication
Penulis: Dr. Husnita, S.E., M.Si, CPR  
Penerbit: PT Simbiosa Rekatama Media
Cetakan: Agustus 2019
Halaman: 140
ISBN: 978-602-7939-88-6
Harga: Rp55.000
 
KITA, para pembaca laman Galamedia ini, mungkin keberatan kalau disematkan sebagai orang-orang mabuk teknologi --sebuah istilah yang awal mulanya dimunculkan oleh futurolog AS, John Naisbitt, sekira 20 tahun silam. Akan tetapi, mari retropeksi dan rabalah seberapa benar pernyataan di bawah ini mencakup diri dan lingkungan kita hari ini.

Kita lebih suka solusi praktis daripada pembahasan substansial semacam agama dan gizi penyokong hidup sehat. Kita mengaburkan pandangan yang nyata dan semu. Kita mulai menerima kekerasan sebagai sesuatu yang wajar. Kita jadikan teknologi sebagai bentuk mainan. Kita menjalani kehidupan berjarak dan terenggut. Dan ... kita takut dan khawatir, namun sekaligus memuja teknologi.

Kiranya premis di atas sudah benar terjadi di antara kita. Bahkan, beberapa sudah terinternalisasi hingga layak disebut mabuk teknologi. Akan tetapi, sebelum berpikir terlampau, kiranya situasi ini lebih pantas "dibelokkan" pada paradigma posiivistik yakni teknologi yang dari "mabuknya" itu justru memudahkan banyak hal.

Simak layanan Veronika dari Telkomsel, yang sebelumnya masih analog, namun dua tahun terakhir ini bisa menjawab otomatis berbasis kecerdasan buatan, baik di FB Messanger, Line, Telegram, dan Telkomsel Apps. Jutaan pelanggan dilayani layanan asisten virtual itu terkait informasi PUK, informasi-reservasi GraPARI terdekat, billing, pembelian pulsa, hingga paket roaming.

Simak juga layanan Brina dari BRI. Seolah nasabah berbicara dengan manusia antara lain di WA, Telegram, dan FB Messenger milik mereka. Padahal sesungguhnya berbasis chatbot tanpa kehadiran manusia jika ingin bertanya layanan seputar peta lokasi kantor cabang dan ATM (anjungan tunai mandiri), hingga lokasi top up Brizzi.

Suka tidak suka, mau tidak mau, bahkan sadar tidak sadar, kita sekarang telah memasuki sebuah proses komunikasi, terutama antar pribadi (interpersonal), yang tak lagi bertumpu customer service biasa. Bukan lagi deretan orang memberi penjelasan seraya tersenyum manis, namun yang menghadapi adalah humanoid alias benda yang memiliki sifat atau karakter menyerupai manusia.

Humanoid, menurut penulis buku, sejatinya bukan istilah baru karena sudah eksis sejak seabad lebih silam. Tepatnya pada 1870, yakni merujuk pada penemuan fosil yang mirip dengan bentuk manusia namun tidak identik dengan kerangka manusia.

Lalu, pada 1978, seorang psikolog Amerika, Harry Jerison kembali memunculkan istilah ini dengan berpijak premis dromiceiomimus atau temuan fosil dinosaurus yang diduga dapat berevolusi menjadi spesies yang sangat cerdas seperti manusia.

Humanoid adalah benda yang memiliki sifat/karakter menyerupai manusia yang didalammya tersimpan data besar (big data), sehingga dapat merespon manusia (Hal.91). Humanoid juga bermakna komunikator pada era digital, yang selain dilengkapi kemampuan kecerdasan buatan, juga menyampaikan pesan melalui berbagai media digital seperti layaknya manusia berkomunikasi (Hal.4).

Halaman:

Editor: Brilliant Awal


Komentar

Terkini

Cadangan Uang

9 Juli 2020, 21:17 WIB

“Sense of Crisis” ala Islam

9 Juli 2020, 08:58 WIB

Menyoal PHK di Tengah Wabah Pandemi

8 Juli 2020, 09:23 WIB

Adakah Inflasi dalam Islam?

7 Juli 2020, 14:27 WIB

Menjadi Produktif di Masa Pademi

5 Juli 2020, 16:02 WIB

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X