Dakwah Sebagai Barometer Keimanan

- 12 Desember 2019, 06:04 WIB
ilustrasi /dok

SEBAGAI seorang muslim yang kaffah, tentu ia mengetahui bahwasannya akan ada kehidupan yang lebih nyata dari perjalanan yang sedang ia alami di dunia, tentu ia faham bahwa akan datang fase yang lebih berharga dari apa yang sedang ia jalaninya, tentu ia sadar bahwa dunia yang sedang ia arungi benar-benar fana dan ada akhirnya, tentu ia juga tahu tentang kalam-Nya:

 

“Padahal akhirat itu lebih baik dan kekal.” (Al-A`la:17)

Kekekalan akhirat tidak bisa dipungkiri lagi, apalagi bagi setiap mukmin yang benar dalam keimanannya, secara otomatis ia mengetahui apasaja unsur yang harus ia imani, ia akan yakin akan adanya Allah, percaya atas utusan-Nya, ia akan yakin atas isi dan kandungan dari kitab-Nya termasuk tentang kekekalan akhirat. Dari sanalah dapat menentukan langkah yang akan ia lakukan untuk menyempurnakan jalur kehidupannya. Apakah ia akan menjadi orang terdepan yang meyakini kebenaran atau hanya sebatas ikut-ikutan, apakah ia akan menjadi seorang yang taat, atau patuh sesaat atau bahkan bergabung dengan para pelaku maksiat.

Dalam memahami ayat tersebut bisa disimpulkan bahwasannya ada kehidupan yang harus diprioritaskan, kata harus disini bukan sebuah penawaran, tapi memiliki arti kewajiban, sehingga siapapun yang beriman ia akan melaksanakan keharusan tersebut, ia akan mendahulukan apa yang pantas didahulukan. Dan subjek dari semua ini terdapat dalam kata; Akhirat.

Ada banyak cara untuk menyempurnakan misi tersebut, baik dalam konteks wajib atau sebagai backing dari kewajiban, salah satunya dakwah.

Dakwah secara etimologi berarti menyeru, mengajak, memanggil. Secara istilah dakwah berarti menyeru kepada kebaikan. Mengajak teman untuk shalat berjamaah, itulah dakwah. Mengajak ayah berjamaah di mesjid, itulah dakwah. Menyampaikan bahwa riba itu haram dan mengajak untuk meninggalkannya, itulah dakwah. Mengajak teman untuk berhenti main judi, itulah dakwah. Karena Misi dari dakwah adalah Amar Ma'ruf Nahyi Munkar (Menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.) Apabila seseorang melihat bahwa ada sesuatu kebenaran yang harus ditegakkan maka ia akan menegakkan, apabila ia melihat suatu kemungkaran, ia akan mencegahnya, melenyapkannya, menyingkirkannya.

Seorang mukmin, memiliki peran penting dalam proses kelangsungan dakwah. Kenapa bisa ? Karena dakwah itu sendiri terikat atas tiga hal, yakni apa yang didakwahkan, siapa objeknya  dan siapa da'i atau pelaku dakwah tersebut. Tanpa ketiganya, tidak mungkin dakwah itu terjadi. Ada suatu kemunkaran yang harus dilenyapkan, tapi tak ada seseorang yang melakukannya, tidak terjadi dakwah disana.

Begitupun sebaliknya, dakwah memiliki peran penting dalam kehidupan seorang mukmin. Karena dari sisi inilah seorang mukmin dapat diukur kadar imannya, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW .

Halaman:

Editor: Brilliant Awal


Komentar

Terkini

Beda Pendapat

23 Juli 2020, 13:56 WIB

Menyiasati Sengketa Antar Notaris

15 Juli 2020, 19:50 WIB

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X