Corona dan Kepala Batu Warga +62

- 18 Maret 2020, 20:16 WIB
Foto penulis /ist

PADA tahun 1973, seorang pakar psikologi yang bernama Raymond Bauer pernah menciptakan teori khalayak kepala batu (the obstinate audience theory). Teori tersebut merupakan bentuk kritik terhadap teori jarum hipodermik yang mengatakan bahwa khalayak tidak berdaya sedangkan media perkasa.

Hal ini kemudian dibantah oleh Bauer. Dia mengatakan bahwa khalayak justru sangat berdaya dan sama sekali tidak pasif dalam proses komunikasi politik. Bahkan, khalayak memiliki daya tangkap dan daya serap terhadap semua rangsangan yang menyentuhnya. Khalayak hanya bersedia mengikuti pesan tersebut, bila pesan tersebut memberikan keuntungan atau memenuhi kepentingan dan kebutuhan khalayak (Ardial, 2010: 144).

Teori yang diciptakan oleh Raymon Bauer tersebut, kini terjadi pada warga +62 yang benar-benar meremehkan informasi mengenai Coronavirus Disaese (Covid-19). Ketika Covid-19 telah menyebar ke berbagai negara, dan mengakibatkan beberapa negara melakukan lockdown, namun negara Indonesia masih saja membiarkan warganya bepergian dengan sebebas-bebasnya.

Padahal pada tanggal 18 Maret 2020, pemerintah mengumumkan bahwa pasien positif yang terlah terjangkit Covid-19 mencapai 227 orang. Memang pemerintah Indonesia telah memberikan instruksi kepada warganya untuk tidak bepergian ke luar rumah, namun instruksi tersebut menjadi sia-sia.

Pasalnya ketika pemerintah memilih untuk meliburkan sekolah dan perguruan tinggi, warga +62 justru memilih untuk berlibur ke tempat wisata yang tidak ditutup oleh pemerintah. Tentu saja tindakan warga +62 tersebut merupakan tindakan yang memperlihatkan bahwa mereka telah menjadi khalayak kepala batu.

Mereka sangat tidak percaya dengan keganasan Covid-19, mereka juga nampaknya telah mengetahui bahwa Covid-19 telah menjadi komodifikasi oleh berbagai media massa maupun media online. Jadi pada akhirnya, yang ada di pikiran warga +62 saat ini ialah, selama tidak mengalami sakit atau gejala Covid-19, maka tidak perlu juga untuk merasa khawatir terhadap penyebaran Covid-19.

Harus Menyalahkan Siapa?
Memang tidak ada salahnya apabila warga +62 tidak mengkhawatirkan keberadaan Covid-19 tersebut, namun bukan berarti mereka menjadi bebas bepergian kemana-mana. Mereka seharusnya mengikuti instruksi dari pemerintah yang menyuruh mereka untuk tetap di rumah, dan mereka juga seharusnya tidak meremehkan keberadaan Covid-19, karena pada hakikatnya setiap penyebaran suatu virus tidak bisa di prediksi kapan virus tersebut dapat dihentikan.

Namun disamping sikap kepala batu warga +62 tersebut, ketegasan pemerintah dalam melindungi warganya dari Covid-19 menjadi persoalan yang harus dibahas. Pasalnya ketika World Health Organization (WHO) telah menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global, pemerintah masih saja berkutat dengan retorikanya yang sangat usang. Ketika kondisi tersebut semakin parah, pemerintah justru hanya menjadi komunikator saja, bukan sebagai eksekutor.

Pemerintah juga hanya bisa meliburkan sekolah dan perguruan tinggi, namun pemerintah tidak mampu untuk menutup seluruh tempat wisata yang ada di Indonesia. Sehingga pada akhirnya, beberapa tempat wisata yang tidak ditutup tersebut menjadi destinasi liburan bagi warga +62.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Resensi Buku: Rujukan di Era Kacau Hukum

18 September 2020, 07:57 WIB

Pandemi Covid-19, Masih dan Makin Berisiko

10 September 2020, 12:55 WIB

Negara Berperan Menekan Angka Perceraian

1 September 2020, 09:17 WIB

Ketika KBM Menembus Batas

28 Agustus 2020, 10:02 WIB

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X