Merekonstruksi Proses Belajar Masyarakat

- 1 Mei 2020, 21:07 WIB
Foto penulis

"PENDIDIKAN nasional ialah pendidikan yang berdasarkan garis hidup bangsanya dan ditujukan untuk keperluan keperluan perikehidupan, yang dapat mengangkat derajat negeri dan rakyatnya…."

Begitulah ucapan yang dilontarkan Ki Hadjar Dewantara, dalam sesi pemberian gelar doctor honoris causa pada hari Dies Natalis Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ketujuh, tepatnya pada 19 Desember 1956. Kata-kata yang diucapkannya, menelanjangi paradigma yang selama ini tertutupi oleh awan dengan begitu rapatnya.

Pendidikan yang sepanjang akal manusia ketahui, hanyalah formalitas yang bisa didapatkan di bangku sekolah. Apa yang disebut dengan pembelajaran, terbatas pada ilmu eksakta yang cenderung rasionalistis. Kendati ada ilmu sosial pun, pengetahuan yang dianggap sah kebenarannya hanyalah yang bersumber dari buku wajib sekolah.

Kegiatan belajar mengajar dalam durasi yang cukup lama, tak kalahnya memadatkan kekosongan dari makna belajar itu sendiri. Di luar sekolah, aktivitas yang tidak berhubungan dengan melatih kemampuan eksakta, dinamakan bermain-main. Syukur-syukur kalau jadi atlit bulu tangkis profesional, apa yang dilakukannya hanya diakui sebagai latihan.

Banyak menjalin relasi pun dianggap tidak belajar, hanya main-main. Dan pemahaman ini sebagaimana yang kita tahu, sudah tertanam sejak lama di benak masyarakat. Padahal menurut Ki Hadjar Dewantara, proses belajar untuk memperoleh pengetahuan adalah penggunaan panca indera yang kemudian diolah oleh intelek, yang selanjutnya dipraktikkan dalam kehidupan yang merupakan kegiatan psikomotorik.

Artinya segala aktivitas yang dilakukan oleh kita, asal tidak pernah terlepas dari proses berpikir, maka itu sudah dinamakan dengan belajar. Termasuk pula dengan beragam kegiatan yang dilakukan selama physical distancing ini, kita pun sedang belajar. Entah itu bekerja work from home (WFH), melakukan hobi, dan mengerjakan urusan rumah tangga, itu juga termasuk belajar.

Kehadiran pandemi korona di Indonesia, secara tidak langsung mematahkan pandangan semua kalangan mengenai pendidikan. Sekaligus, mengganti ruang belajar yang tadinya di institusi formal, menjadi di ruang pergerakan masing-masing individu. Transisi perubahan ruang belajar masyarakat ini bermula dari awal kemunculan virus korona di dunia pada 2019.

Seiring pertumbuhan virus ini, semakin banyak perhatian dunia yang teralihkan keapadanya. Akselerasi penularan virus korona yang begitu cepat, membuat seluruh media berlari mengejar seluruh petunjuk yang ditinggalkan virus ini. Masyarakat yang berposisi sebagai konsumen informasi, mau tak mau menelan infromasi pandemi yang terus membanjir.

Selanjutnya, masyarakat terus menyelami informasi korona dengan seksama, dalam upaya menjaga keberlangsungan hidupnya. Hal ini bisa kita lihat dari perilaku masyarakat yang dahulu membeli masker, hand sanitizer, dan berbagai kebutuhan pokok jangka panjang.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X