Membusuknya Pendidikan Link and Match

- 2 Mei 2020, 18:54 WIB

SEBABGAI pengantar, saya harus mengatakannya diawal bahwa Menteri Pendidikan bukanlah ahli pendidikan. Sejak reformasi, jabatan ini selalu diisi oleh orang yang terdidik, tapi tidak punya latar belakang dunia pendidikan. Mereka duduk di pucuk pimpinan Kementerian Pendidikan, tanpa tahu banyak apa itu pendidikan. Karena mereka tidak tahu apa-apa tentang pendidikan, maka sejak reformasi, kebijakan pendidikan kerap jauh lebih banyak menuai kontroversi dibanding kesepakatan.

Tak tahu banyak soal regulasi. Oktober, 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengundang sejumlah tokoh, pakar, serta penggiat pendidikan dan kebudayaan Indonesia.

Pada tahun pertama, Mendikbud beri keterangan terhadap media bahwa dirinya tak punya Inovasi soal pendidikan. Sontak ini membawa gelak bagi saya. Tentu tidak dalam rangka mengadili, namun ini tentang miskonspesi yang sering kita dengar tentang Link and Match. Paradigma ini mensyaratkan lembaga pendidikan untuk melakukan penyesuaian dengan industri. Ya, sekolah-sekolah harus didesain agar lulusannya memiliki kemampuan yang dibutuhkan industri.

Saya lebih senang mengatakan ; “sekolah sebagai pabrik manusia yang siap kerja”. Itu artinya selamat datang neoliberalisme pendidikan di Indonesia. Maka, secara harfiah pendidikan di ruang-ruang kelas sebagai pengemangan bakat dan potensi masing-masing, dan memberikan kebebasan setiap individu untuk menjadi dirinya sendiri, tidak akan pernah berlaku di Indonesia.

Jelas pendidikan saat ini tidak kritis. Hal lainnya, kita bisa lihat pada Ujian Nasional, mungkin tak ada satu pun ahli pendidikan yang sepakat bahwa harus ada Ujian Nasional (UN) dalam secuil bidang saja, yang menjadi standar utama kelulusan siswa setelah tiga tahun belajar di sekolah menengah.

Logika yang paling sederhana pun pasti menyangkal bahwa kebijakan itu tepat, baik dalam tataran ide maupun praksis. Jika mau jujur, semua guru sekolah menengah pun menolak ujian aneh semacam itu. Tapi berhubung memang Menteri Pendidikan-nya kerap merupakan orang yang tidak paham tentang pendidikan dan/atau ada sekian tangan yang bermain di belakangnya, maka kebijakan itu tetap dipertahankan.

Kita dituntut melakoni pendidikan sesuai kurikulum yang telah diatur oleh pemerintah, tanpa melihat bakat dan potensi yang berbeda-beda dari tiap individu, hanya melahirkan budaya kompetitif melalui sistem nilai. Hal itu berdampak pada hajat hidup kita yang menempuh pendidikan. Pada akhirnya, kita pun turut terjerumuskan pada sistem yang menindas; menjadi tenaga kerja, memenuhi kebutuhan industri.

Sebenarnya bisa, lihat Pada 17 November 1939, merupakan momen di mana sekolah menjadi tempat para individu menumbuhkan rasa empati pada keadaan sosial dan kepekaan untuk melakukan perubahan.
Sekaligus kilas balik penetapan International Student’s Day (ISD) yang dilakukan oleh International Student’s Union, yang bermarkas di Praha, atas peristiwa tragis yang terjadi di Cekoslovakia; yaitu eksekusi mati tanpa pengadilan terhadap sembilan mahasiswa dan dosen.

Sebelumnya, penyerbuan besar-besaran  dilakukan oleh Reichprotector Ceko (perwakilan Nazi di negara boneka; Bohemia & Moravia), melalui penutupan lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Cekoslovakia dan melakukan penangkapan terhadap lebih dari 1200 pelajar-mahasiswa-pemuda untuk dikirim ke kamp konsentrasi.

Halaman:

Editor: Brilliant Awal


Komentar

Terkini

Cadangan Uang

9 Juli 2020, 21:17 WIB

“Sense of Crisis” ala Islam

9 Juli 2020, 08:58 WIB

Menyoal PHK di Tengah Wabah Pandemi

8 Juli 2020, 09:23 WIB

Adakah Inflasi dalam Islam?

7 Juli 2020, 14:27 WIB

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X