Soal Impor Jamu: Mari Lihat Betapa Kaya Tanaman Obat Indonesia

- 3 Mei 2020, 05:23 WIB

BEBERAPA hari lalu, warganet dihebohkan berita impor jamu dari Cina yang dilakukan oleh Satgas Lawan Covid-19 DPR RI. Berita tersebut kemudian membuat pengusaha jamu Indonesia protes. Gabungan Pengusaha (GP) Jamu keberatan dengan kegiatan importasi yang dilakukan Satgas tersebut. Pasalnya kegiatan impor ini tidak diketahui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan industri jamu dalam negeri.

Ketua Umum GP Jamu, Dwi Ranny Pertiwi menjelaskan Satgas DPR-RI impor jamu secara besar-besaran untuk dibagikan ke rumah sakit rujukan corona tanpa koordinasi ke BPOM. Ia menyayangkan bahwa apa yang dilakukan oleh Satgas tersebut telah menafikan keberadaan jamu Indonesia. Ia menyampaikan ini bukan soal materi tetapi ini soal penghargaan terhadap Jamu Indonesia.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) menjelaskan , sejauh ini produk jamu memang secara klinis belum diuji untuk corona karena belum ada kesempatan untuk dipakai pasien Covid-19 di rumah sakit rujukan.

Setelah dikonfirmasi, importasi yang dilakukan Satgas DPR-RI ini ada tiga bahan obat yang diimpor. Kamperfulli, forsythia, dan biji burdocks. Kata Deputi Penerangan Masyarakat Satgas Lawan Covid-19 DPR RI, Arteria Dahlan, membantah pihaknya mengimpor jamu yang berhasil menyembuhkan Dasco Ahmad dari Covid-19 tersebut. Yang kemudian diketahui jamu tersebut bernama Herbavid-19. Ia menyampaikan bahwa jamu tersebut adalah sumbangan dari Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.

Sungguh sangat disayangkan, langkah baik yang dilakukan oleh Dasco Ahmad ini tanpa ada koordinasi yang baik dengan pelaku indutri jamu, BPOM dan Dokter Pengembang Obat Tradisional. Sehingga wajar jika langkah tersebut menuai kontra di tengah pelaku industri jamu.

Apalagi setelah Ketua umum PDPOTJI, Inggrid Tania mengkaji dari berbagai jurnal dari China, ternyata jamu yang didonasikan ke RS rujukan adalah jamu masuk angin. Dalam hal ini dapat mengatasi seseorang yang mengalami keluhan meriang, kembung, dan lainnya.

Sedangkan pada faktanya, Indonesia sendiri memiliki ramuan jamu masuk angin yang sangat banyak. Mengapa tidak memakai tanaman obat Indonesia yang khasiatnya juga seperti Herbavid-19 tersebut?

Perjalanan tanaman obat indonesia sebagai obat Covid-19 sangat panjang dan tak mudah. Bukan karena tak mampu, namun, karena sulitnya asese dari pemerintah untuk menelitinya. Ditambah lagi, perbedaan pendapat di kalangan dokter yang masih mengacuhkan tanaman obat di Indonesia, dan minimnya kesempatan bagi tanaman obat Indonesia untuk membuktikannya karena dominasi gurita kapital farmasi di Indonesia.

Setidaknya, kehebohan impor jamu ini membukakan mata kita semua, pertama bahwa tanaman obat atau jamu dapat dijadikan alternatif metode kuratif bagi pasien Covid-19. Dasco Ahmad sudah membuktikannya. Studi kasus atau pengalaman empiris tersebut paling tidak menjadi pintu masuk harapan bahwa tanaman obat mampu mengobati Covid-19.

Halaman:

Editor: Brilliant Awal


Komentar

Terkini

Cadangan Uang

9 Juli 2020, 21:17 WIB

“Sense of Crisis” ala Islam

9 Juli 2020, 08:58 WIB

Menyoal PHK di Tengah Wabah Pandemi

8 Juli 2020, 09:23 WIB

Adakah Inflasi dalam Islam?

7 Juli 2020, 14:27 WIB

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X