Dilematis Upaya Penyelesaian Eksploitasi ABK Kapal Tiongkok

- 26 Mei 2020, 19:57 WIB

MENGENAI perbudakan atau bahasa ilmiahnya adalah eksploitasi manusia, memang tak lekang oleh waktu. Sedari zaman Nabi Musa, Abraham Lincoln, Zaman Penjajahan Belanda hingga sekarang masih saja menjadi isu kemanusiaan yang patut kita cermati.

Perbudakan atau eksploitasi manusia adalah keadaan di saat orang menguasai orang lain atau memiliki orang lain dan terkadang mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan yang ada. Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berjudul Sapiens mengatakan jika perbudakan ini telah ada sejak zaman ketika manusia telah mengenal pertanian atau memproduksi pangan.

Berita baru-baru ini yang mengusung tentang masalah di atas merujuk ke Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia di kapal Long Xing 629 milik Tiongkok. Awalnya jagad maya melalui video pendek dihebohkan tentang jenazah ABK Indonesia yang dilarung ke laut. Banyak yang mengatakan jika itu pelanggaran HAM.

Namun, sejauh yang saya tahu tentang pelarungan jenazah ABK itu wajar saja asal sudah memberi kabar serta mendapatkan izin dari perusahaan maupun keluarga yang bersangkutan. Daripada jenazah tersebut dibiarkan di kapal dan menjadi sumber penyakit. Di samping itu, kapal tersebut harus kembali ke pelabuhan asal untuk melakukan klarifikasi kepada pihak berwenang.

Setelah dipahami lebih dalam, ternyata titik fokus isu eksploitasi manusia bukan saja pada pelarungan tersebut melainkan juga terletak pada jam kerja yang panjang yakni 18 jam sehari dan hanya boleh istirahat setiap 6 jam sekali. Gaji terbilang kecil dan jauh dari kesepakatan berdasarkan kontrak kerja mereka.

Awalnya diiming-imingi gaji bulanan sekitar Rp 4.553.100 namun kenyataannya hanya Rp 637.434 per bulan. Ada juga dugaan diskriminasi seperti ABK WNI tidak diberi air minum selayaknya ABK Tiongkok. ABK Indonesia disuruh minum  air laut yang telah melalui proses penyaringan, namun efeknya membuat pusing kepala dan dahak dari tenggorokan.

Menlu Retno Marsudi kabarnya telah meminta keterangan dari Dubes Tiongkok untuk Indonesia yakni Xiao Qian. Kemudian, pemerintah Indonesia telah meminta bantuan Coast Guard Korsel untuk ikut melakukan investigasi terhadap Kapal Long Xing 629.

Memastikan terkait keabsahan pelarungan jenazah, RI sendiri juga akan berusaha menyelidiki dan mendapatkan klarifikasi. Apabila melanggar aturan sesuai Organisasi Buruh Internasional (ILO), maka RI berharap Tiongkok menegakkan hukum secara adil.

Bareskrim Polri juga memanggil perusahaan yang menjadi agen penyalur ABK. Panggilan Bareskrim tersebut dalam rangka pemeriksaan terkait seluk beluk prosedur perekrutan serta pemberangkatan para ABK.

Halaman:

Editor: Brilliant Awal


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X