Seni Mengajar, Kekuatan Emosi Menembus Rasa

- 12 September 2020, 16:44 WIB
/

GALAMEDIA - Seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu, seperti tari, lukisan, ukiran. Pun dalam kegiatan belajar mengajar. Seni meliputi banyak kegiatan manusia dalam menciptakan karya visual, audio, atau pertunjukan yang mengungkapkan imajinasi, rasa, atau gagasan dari pembuatnya, untuk dihargai keindahannya estetikanya, atau kekuatan emosinya

Pelibatan emosi dalam mengajar, utamanya secara virtual maupun audio visual, butuh kekuatan seni yang mumpuni. Tanpa kekuatan sentuhan seni dalam mengajar, rasa itu tidak akan sampai. Bagaimana membuat siswa tergerak menikmati tuturan sang guru dalam menyampaikan pembelajaran, dapat menembus rasa, hingga mampu menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan, dan goalnya mengimplementasikan dalam diri siswa, menjemput masa depan.

Baca Juga: Jadi Relawan Uji Klinis Vaksin Covid-19, Anggota DPRD Kota Bandung Ini Mengaku Tidak Menyesal

Hidup itu belajar, maka guru jangan pernah puas dalam merancang pembelajaran, mencetuskan gagasan, menerapkan metode yang tepat, pelibatan emosi, hingga siswa dapat memahami dan menikmati pembelajaran dalam ruang estetika yang dikelola guru.

Banyak hal, sarat dengan nilai seni. Seni bagaikan mengajar, mengajar adalah seni. Apa? Bagaimana memaknai hal tersebut?
Pada tulisan saya sebelumnya, dengan kondisi pandemi, guru mau tidak mau terjun menghadapi era industri 4.0.

Tiga unsur dalam pendidikan adalah guru, orang tua, dan siswa, adanya keterkaitan yang dilandasi seni dalam hubungan timbal balik ini. Seni berbicara menghadapi orang tua siswa dalam mempertanggungjawabkan berbagai kegiatan di sekolah, akan kering tanpa seni dalam berkomunikasi.
Kesalahpahaman kemungkinan terjadi.

Baca Juga: Benarkah Makan di Luar Rumah Lebih Berisiko daripada Naik Angkutan Umum? Ini Jawabannya

Saat pembelajaran virtual, bagaimana menyampaikan kekurangan siswa, penting dengan seni berkomunikasi.

Keterbatasan guru dalam mengajar secara virtual, memberikan lompatan-lompatan bermakna dengan kekuatan emosi menghasilkan karya yang dengan seolah tiba-tba saja guru berubah menjadi youtuber mengisi ruang-ruang kosong di media dengan pembelajaran penuh makna. Semua pengelolaan membutuhkan sentuhan seni.
Latar tempat, properti, isi, shooting video pembelajaran, vocal, ekspresi, dan banyak hal, semua dikelola dengan mengalirnya seni memenuhi ruang estetika.

Halaman:

Editor: Kiki Kurnia


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Peduli Kanker, Sayangi Diri Anda

24 Oktober 2020, 13:03 WIB

Mengenal Identitas Nasional Kita

19 Oktober 2020, 22:00 WIB

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X