Anak Putus Sekolah, Salah Siapa?

- 3 November 2020, 15:40 WIB
Anjal (anak jalanan) sedang didata untuk menjalani rapid test.* /RIRIN NF/”PR”/

 

GALAMEDIA - Pandemi virus corona tak hanya berdampak pada sektor kesehatan dan ekonomi, bidang pendidikan pun turut terkena efeknya. Salah satu buktinya yaitu, ada peningkatan jumlah anak putus sekolah di Cianjur, Jawa Barat yang mencapai 7.751 siswa. Angka ini merupakan jumlah tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Sebagaimana permasalahan lainnya, sebelum pandemi pun masalah pendidikan kerap dihadadapi oleh bangsa Indonesia. Kualitas pendidikan yang tidak merata, kurikulum pendidikan yang selalu mengalami revisi, minimnya sarana dan prasarana, dan sebagainya.

Masalah putus sekolah juga bukan hal yang baru. Pada tahun 2019, data yang dimiliki Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), jumlah anak Indonesia yang tidak bersekolah mencapai 4.586.332.

Di situs resminya, TNP2K mengungkap bahwa konsentrasi terbesar dari anak Indonesia yang tidak bersekolah atau putus sekolah berada di Provinsi Jawa Barat, dengan angka 958,599 anak. (tempo. co. id, 23 Juli 2019)

Baca Juga: Jauhi Logical Fallacy Saat Pandemi, Supaya Tidak Salah Terima Informasi, Ini Cara Menangkalnya

Biaya Pendidikan yang Mahal

Banyak pihak menilai bahwa yang menjadi sebab utama anak putus sekolah adalah faktor ekonomi atau kemiskinan. Tentu kita tahu bahwa layanan pendidikan hari ini tidak bisa didapatkan secara cuma-cuma. Adanya program Wajib Belajar pun nyatanya tidak bisa menjadi solusi untuk mengatasi anak putus sekolah.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan (MSBP) 2018, semakin tinggi jenjang pendidikan maka kian mahal pula biaya sekolah yang harus dibayar orang tua murid. Maka tidak heran jika prosentase putus sekolah anak usia SMA/SMK lebih besar dibanding usia SD atau SMP.

Halaman:

Editor: Kiki Kurnia


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X