Buka-Bukaan di Vlognya, Tersangka Suap Meikarta Pertanyakan Asal Usul Uang Rp 10 Miliar

- 4 Desember 2019, 08:31 WIB
Hasil tangkapan gambar di YouTube /YouTube

SEJAK ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus suap perizinan proyek Meikarta, Bartholomeus Toto mengunggah video vlog di YouTube. Ada tiga video yang diunggahnya. Di video terakhir, Toto mempertanyakan soal total uang suap yang disebut KPK sebanyak Rp 10 miliar.

Pada video dengan judul "Toto Vlog #3 Penutup Bedah Kasus : Kenapa Saya Harus Dijadikan Tersangka Meikarta", Toto masih bertanya mengapa dirinya bisa dijadikan tersangka oleh KPK. Ia pun mencoba membedah rangkaian peristiwa Meikarta dari sisi fakta dan bukti namun dengan mengesampingkan fakta hukum.

Dilihat pada Selasa (3/12/2019) malam, Toto mengungkap alasan mengapa dirinya tak mau membedahnya dari segi hukum. "Pertama saya bukan ahli hukum. Berkaca pengalaman dalam pusaran kasus Meikarta, saya menghadapi kenyataan bahwa hukum itu bukan semata-mata persoalan fakta atau pembuktian," ujarnya dalam video tersebut.

Ia pun mencoba menyederhanakannya dan mengesampingkan unsur hukum dan hanya berdasarkan fakta serta bukti yang dapat diverifikasi kebenarannya. "Misalnya fakta-fakta persidangan, kesakisan-kesaksian yang sudah didokumentasi, catatan tulisan tangan, catatan elektronik semua materi yang bias diperiksa secara fisik. Bukan berupa opini, asumsi atau keyakinan seseorang," tuturnya.

Sebagai seorang yang berlatar belakang operasional perbankan, Toto menyebut analisa yang dipakainya adalah metode value the money. Ia memulainya dengan apa yang terjadi pada 14 Oktober 2018. Ketika itu KPK melakukan OTT terhadap Taryudi (Tim Billy Sindoro) dan Neneng Rahmi (Tim Bupati Neneng).

"Uang yang di OTT dari media massa diperoleh informasi 90 ribu dolar Singapura, Rp 23 juta, lalu ditambah Rp 513 Juta. Jadi totalnya kira-kira Rp 1,5 miliar, bukan Rp 10 miliar atau Rp 10,5 miliar. Nah, darimana datangnya uang yang Rp 10 miliar ini? Uang Rp 10 miliar ini berdasarkan dari pengembalian Bupati Neneng ke KPK. Katanya sih dari Lippo. Tidak ada penjelasan dari mana sebetulnya asal uang ini. Pokoknya ada uang yang dikembalikan Rp 10 miliar, titik," terangnya.

Jika mau mencari tahu, lanjut Toto, uang sejumlah Rp 10 miliar itu bukan jumlah kecil, apalagi tunai. Untuk mengmbil uang di bank secara tunai Rp 500 juta saja, ujarnya, wajib menunjukkan KTP dan belum tentu bisa dapat langsung Rp 10 miliar.

"Kalau dicicil, artinya harus bolak-balik ambil ke bank 20 kali. Nah waktu pengembalian uang Rp 10 miliar tersebut, saya menjabat sebagai Presdir Lippo Cikarang. Dalam sidang, Bupati Neneng bersaksi bahwa dia disuap perizinan Meikarta itu dengan Billy Sindoro. Jumlahnya antara Rp 10 miliar sampai dengan Rp 20 miliar. Sementara Billy tidak pernah mengakui ada deal tersebut. Lagian yang di-OTT hanya RP 1,5 miliar. Pertanyaannya, jadi uang Rp 10 miliar yang dikembalikan itu sumbernya dari mana?" tanyanya.

Toto dalam videonya juga menyinggung soal peran Edy Dwi Soesianto atau Edi Soes yang saat itu menjabat sebagai Kepala Divisi Perizinan Lippo Cikarang. Menurutnya, saat itu Edi Soes sudah disiapkan solusi sampai akhirnya muncul narasi uang suap untuk IPPT Meikarta sebesar Rp 10 miliar bersal dari dirinya.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X