Polisi Subang Ringkus Dua Pengedar Uang Palsu

- 12 Desember 2019, 18:26 WIB

DUA tersangka pengedar uang palsu (upal) di wilayah hukum Polres Subang, berhasil diamankan jajaran Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim). Polisi juga menyita barang buktinya sebesar Rp 4,5 juta.

Kapolres Subang, AKBP Teddy Fanani didampingi Kasatreskrim, AKP Moch Ilyas Rustandi mengungkapkan, pengedaran upal ini sempat meresahkan warga terutama pedagang di pasar.

"Beruntung anggota kami berhasil mencium adanya seseorang yang tengah berada di jembatan Cilamatan Padaasih, Kecamatan Cibogo. Setelah diamankan ternyata memiliki banyak uang rupiah yang diduga palsu," terangnya kepada wartawan, Kamis (12/12/2019).

Saat diamankan anggota Satreskrim Polres dibantu Polsek Cibogo, tersangka URN yang tercatat sebagai warga Kampung Pulekan Desa Balimbing, Kecamatan Pagaden Barat itu ternyata membawa uang sebanyak 67 lembar pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. Setelah diperiksa dan tanpa dibawa ke laboratorium pun sudah patut diduga uang itu palsu.

"Kami perdalam keterangan tersangka dan mengakui kalau uang itu didapatnya dengan cara membeli 2 banding 1, artinya uang rupiah asli Rp 1 juta ditukar ke uang palsu Rp 2 juta dari warga Cikampek, Kabupaten Karawang berinisial SGD," jelas Kapolres.

Polisi pun menggeledah rumah tersangka. Namun tidak ditemukan barang bukti uang rupiah palsu. Di sana, polisi hanya menemukan bukti lainnya yang menunjukan bahwa telah terjadi transaksi jual beli uang rupiah palsu antara tersangka URN dengan tersangka SGD. Tersangka SGD pun tak lama kemudian bisa ditangkap.

"Tersangka SGD juga mengakui bahwa uang rupiah palsu yang dijual kepada tersangka URN, adalah hasil pembelian dari temannya inisial S dan N Dalam pencarian orang (DPO) dengan nilai tukar perbandingan 3 banding 1," pungkasnya.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan, uang rupiah palsu senilai Rp 4.550.000 ribu dengan rincian, 24 lembar Rp 100.000, 43 lembar uang rupiah palsu, nominal Rp 100 ribu, dan 2 unit handphone milik para tersangka.

Kedua tersangka dijerat Pasal 36 Ayat 2 dan 3 Undang-undang RI No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 50 miliar.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X