Polres Cimahi Bongkar Sebuah Rumah yang Produksi Tembakau Gorila

- 1 Juni 2020, 21:26 WIB

SATUAN Reserse Narkoba Polresta Cimahi berhasil membongkar pabrik rumahan yang memproduksi tembakau sintetis mengandung narkotika, di Cibaduyut, Bojongloa Kidul, Kota Bandung, Ahad (1/6/2020) petang.

Selain membongkar pabrik rumahan yang membuat tembakau sintesis mengandung narkotika, Polisi pun mengamankan dua orang pria berinisial PS (20) dan DS (19).
Kapolresta Cimahi, AKBP M Yoris Maulana kepada wartawan saat turun langsung ke tempat kejadian penggeledahan di pabrik rumahan,  mengatakan, tersangka PS mengemas tembakau yang mengandung narkotika itu dengan berbagai merk. Di antaranya, Banan Candy, Nataradja Dance Shiva dan Bali Indonesia, lalu memasarkannya melalui media sosial instagram dengan akun ZETAS.STUFF. 
Lanjut Yoris, pengungkapan itu, berawal dari banyaknya informasi terkait dengan beredarnya tembakau sintetis di wilayah Kota Cimahi. Petugas pun mendalami informasi tersebut dan lakukan penyelidikan.
"Anggota kami lakukan undercover, pendalaman informasi penjualan tembakau sintetis," kata Yoris didampingi Kasat Reserse Narkoba AKP Andri Alam Wijaya di lokasi kejadian, Senin (1/6/2020).
Masih dikatakan Yoris, dari penyelidikan itu, polisi mendapat adanya jaringan penjualan tembakau sintetis, melalui media sosial instagram. Dan anggota pun melakukan undercover sebagai pembeli melalui online. Kemudian, saat mengambil pesanan, polisi menangkap satu orang penjualnnya yang berinisial DS warga Kota Cimahi, pada 31 Mei 2020.‎
"Saat diamankan, pelaku kedapatan membawa lima linting tembakau sintetis," katanya. 
Dari pengakuan DS, lanjut Yoris, dirinya mengaku bekerja sama dengan seorang lainnya yang berinisial PS. Polisi mengejar PS dan berhasil menangkapnya, di sebuah rumah kontrakan, di ‎Cibaduyut, Bojong Loa Kidul, Kota Bandung.
"Dan disinilah pelaku PS menjadikan rumah kontrakkannya iti sebagai pabrik rumahan untuk membuat tembakau sintetis. Kedua tersangka memiliki peran yang berbeda. Untuk tersangka PS memilikibperan sebagai peracik dan tersangka DS memasarkan tembakau yang mengandung narkotika itu," jelasnya.
Dalam seharinya, lanjut Yoris, tersangka mampu memproduksi beberapa gram untuk dijadikan lintingan tembakau sintetis, untuk dijual kembali. ‎
"Tersangka belajar meracik dan mendapat bahan baku pembuatan tembakau sintetis itu, dari seseorang yang tengah dalam pengejaran,"ujarnya.
‎Tersangka PS dan tersangka Ds dalam sekali produksi mendapatkan keuntungan kotor sejumlah Rp. 175.000.000 perminggu. Setiap 1 gram bibit tembakau sintetis, dapat menghasilkan 50 gram tembakau sintetis dengan harga jual per 5 gram seharga 350.000 sampai 400.000. 
"Mereka sudah beroperasi selama beberapa bulan. Pemasaran hasil produksi tembakau sintetis kedua tersangka selain di Kota, Cimahi, Kota Bandung, Kab. Bandung beredar juga di beberapa Kota dan Kabupaten di wilayah pulau Jawa," katanya. 
Dari pengungkapan ini, ‎polisi amankan beberapa barang bukti diantaranya ‎beberapa linting tembakau sintetis, beberapa bahan pokok tembakau sintetis beserta‎ peralatannya.
Tersangka PS dan Tersangka DS diduga melanggar Pasal 114 ayat (1) dan ‎atau pasal 132 ayat (1) Subsider Pasal 113 ayat (1) dan atau Pasal 112 ayat (1) Undang Undang Republik Indonesia No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika Juncto Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2020, Tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.‎
"Ancaman pidananya diatas 10 tahun penjara," tegas Yoris.

Editor: Kiki Kurnia


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X