K-POP Disukai Remaja Selama Pandemi, Psikolog Ungkap Alasannya

- 14 Mei 2022, 16:05 WIB
Grup K-Pop Woo!ah!
Grup K-Pop Woo!ah! /Instagram.com @wooah_nv/

GALAMEDIA - Psikolog klinis Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Nanda Rossalia, M.Psi mengungkapkan salah satu alasan sebagian remaja semakin menyukai para idola K-pop selama pandemi COVID-19 dua tahun terakhir adalah karena munculnya perasaan dekat dengan sang idola, meski hanya dari media sosial.

Merujuk pada hasil konseling yang dia lakukan dengan klien remajanya, dia mengatakan kecenderungan itu awalnya bersumber dari stres saat berada di rumah. Penyebab stres itu tak lain berasal dari orang -orang terdekat mereka.

Baca Juga: SEA GAMES 2021 Vietnam, Indonesia Geser Malaysia di Peringkat 2, Tuan Rumah Memimpin

"Mereka banyak yang lebih bebas ketika mereka ada di luar sebenarnya. Tetapi untuk mereka yang tinggal dengan stres itu yang agak sulit, karena memang proximity-nya tidak ada. Jadi kemudian mereka ke mana? Ke media sosial, ke internet," ujar Nanda Rossalia, M.Psi dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya dalam webinar Remaja dan Gawai yang diselenggarakan Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), Sabtu.

Seiring para remaja ini menyukai idola atau artis K-pop tertentu berkembanglah hubungan parasosial yakni hubungan antara seseorang dengan figur yang ada di layar. Terlebih, para idola K-pop membangun kedekatan dengan para penggemar mereka misalnya melalui siaran langsung di media sosial dan ini disambut positif penggemar.

"Karena semakin dia membuka media sosial apalagi bila dia mem-follow, suka ada live, saya melihat mereka. Saya merasa ada intimacy, kayaknya hanya dia (idola) yang bisa mengerti saya sehingga itu yang menjadi part of social interaction," jelas Nanda.

Baca Juga: KKB Papua Berulah Lagi, Kini Bakar Perumahan Guru di Kabupaten Puncak

Menurut Nanda, sebagian penggemar bahkan bisa merasa hanya idola mereka yang memberi perhatian pada mereka dan berkembanglah istilah "halu" walau bukan dalam artian sebenarnya (halusinasi yakni pengalaman indra tanpa adanya perangsang pada alat indra yang bersangkutan, misalnya mendengar suara tanpa ada sumber suara tersebut).

"Semakin kuat itu kemudian menjadi suatu hubungan, jadi hubungan interpersonal kemudian ini jadi realita-nya. Karena dia (idola) sudah ada di kepala itu seperti imajinasinya dan bondingnya kuat, kami menyebutnya hubungan parasosial. Itu perlu juga suatu pendekatan yang lain untuk kita bantu," kata dia.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman

Sumber: ANTARA


Tags

Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

x