ANAK GARUDA: Kisah Sukses yang Berliku, Tetapi Menyenangkan

- 14 Januari 2020, 13:32 WIB

SEKOLAH Selamat Pagi Indonesia (SPI), di Kota Batu, Malang memang ladangnya inspirasi dan motivasi, khususnya bagi milenial. Tak hanya menyediakan pendidikan gratis bagi siswa-siswi dari kalangan miskin, peraih Kick Andy Heroes 2018 ini, mengajak dan mengajar seluruh siswanya untuk memutus rantai kemiskinan secara sistematis dengan menjadikan mereka entrepreneur muda yang sukses di berbagai bidang. Kini, kisah siswa-siswi ini diangkat ke layar perak dengan judul ANAK GARUDA sebagai film perdana yang diproduksi Butterfly Pictures, salah satu unit usaha yang dikelola langsung oleh siswa-siswi dan alumni sekolah gratis bagi kalangan miskin ini. Kisah-kisah di Sekolah SPI adalah kisah-kisah tentang perjuangan tak kenal menyerah, serta sinergi mengatasi perbedaan untuk maju bersama.

Film yang terinspirasi kisah nyata perjuangan para pahlawan milenial ini diangkat ke layar lebar melalui tangan dingin penulis Alim Sudio dan besutan sutradara Faozan Rizal dan Verdi Solaiman. Sederet nama bintang muda yang tengah bersinar pun diminta memerankan tujuh tokoh nyata ini. Tissa Biani akan berperan sebagai Sayidah, Violla Georgie sebagai Yohana, Ajil Ditto sebagai Robet, Clairine Clay sebagai Olfa, Geraldy Kreckhoff sebagai Wayan, Rania Putrisari sebagai Sheren, Rebecca Klopper sebagai Dila dan Kiki Narendra yang berperan sebagai Koh Jul, atau Julianto Eka Putra, serta sederet nama populer lainnya seperti Rizky Mocil, Fatih Unru, Jenny Zhang dan Krisjiana Baharudin.

Pengambilan gambar berlangsung di Kota Batu Malang dan beberapa kota di Eropa sesuai kisah aslinya. Film ini bisa dinikmati mulai 16 Januari 2020 di bioskop seluruh Indonesia. Selain sebagai co-sutradara, aktor watak papan atas Verdi Solaiman juga bertindak sebagai produser film ini.

Verdi Solaiman produser dan co-sutradara ANAK GARUDA menyatakan dirinya terinspirasi kisah perjuangan yang ada di Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI).

“Aslinya, saya ini memang sangat terkesan dengan siswa-siswi SPI ini. Tak cuma sanggup mengatasi hambatan pribadi yang rumit, seperti self-esteem dan percaya diri, mereka semua serius mengasah skill agar bisa jadi usahawan muda yang sukses, lalu mereka juga mampu membentuk tim kerja yang efisien dan valuable. Berbagai tempaan ini yang menjadikan mereka pribadi-pribadi yang berintegritas tinggi, padahal masih sangat muda. Saya rasa, ini perlu disampaikan kepada masyarakat, karena ini kisah nyata dan kisah sukses, bukan cuma teori di atas kertas. Harapannya film ini bisa menjangkau seluruh kalangan masyarakat, karena film ini cocok untuk semua lapisan, dari anak-anak muda remaja yang sedang mengejar cita-cita, hingga orang tua yang memberi arahan. Bahkan bagi calon pengusaha muda yang mau bikin startup, saya sarankan nonton ANAK GARUDA. Kalau anak-anak SPI yang dari kalangan miskin saja bisa, apalagi kita yang dari kalangan lebih beruntung, juga pasti bisa!” papar Verdi dalam siaran persnya, Selasa (14/1/2020).

SPI memang sekolah yang unik. Dibuka pada 2007 di atas lahan seluas 5 hektar, kini luasnya sudah mencapai 21 hektar sebagian besar dialokasikan untuk unit-unit bisnis yang dikelola para siswa dan alumni, mulai dari peternakan, pertanian, perhotelan, pertunjukan, pariwisata, hingga produksi film. Setiap tahun SPI menerima 100 siswa baru untuk jenjang SMA.

Meskipun siswa-siswi Sekolah SPI seluruhnya datang dari keluarga tidak mampu, namun dari beragam latar belakang agama maupun daerah asal. Di SPI, mereka diajar dan diajak berjuang bersama, bertoleransi dan bekerja sama untuk mengubah nasib dan memutus rantai kemiskinan keluarga mereka. Kini, sebagian alumninya telah menjadi wirausahawan sukses dengan omzet milyaran rupiah dan mampu menjamin keberlangsungan Sekolah SPI bagi adik-adik kelas mereka.

Film ANAK GARUDA terinspirasi kisah nyata tujuh alumni Sekolah SPI di tahun-tahun awal berdiri. Ceritanya berangkat saat Julianto Eka Putra sang inisiator (biasa dipanggil Koh Jul) mengajak 7 anak dengan latar belakang (suku, agama dan ras) berbeda – Sheren, Olfa, Wayan, Dila, Sayidah, Yohana, dan Robet menjadi satu tim yang membantunya mengelola operasional sekolah dan unit-unit bisnis. Namun menyatukan mereka bukan persoalan sederhana. Pertengkaran dan keributan silih berganti, mulai dari salah paham hingga rasa iri dan cemburu.

Tambah lagi, bibit-bibit cinta terpendam di antara mereka, menambah munculnya potensi perpecahan. Satu-satunya yang bisa merekatkan adalah figur Koh Jul. Namun hingga kapan ketergantungan ini terjadi? Akhirnya Koh Jul melepas ketujuh anak tersebut berangkat ke Eropa tanpa didampingi. Di Eropa, semua yang ditakutkan, menjadi kenyataan. Pertengkaran dan keributan meledak, perpecahan di depan mata.

Halaman:

Editor: Kiki Kurnia


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X