Lama Tak Digelar, Kalangan Seniman Cihideung Laksanakan Upacara Nyepuhan Parabot

- 14 Desember 2021, 16:53 WIB
Lama tidak dilaksanakan, upacara ritual Nyepuhan Parabot kembali digelar di Kampung Panyairan, Desa Cihideung, Kecamstan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.
Lama tidak dilaksanakan, upacara ritual Nyepuhan Parabot kembali digelar di Kampung Panyairan, Desa Cihideung, Kecamstan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. //Kiki Kurnia/Galamedia/


GALAMEDIA - Lama tidak dilaksanakan, upacara ritual Nyepuhan Parabot kembali digelar di Kampung Panyairan, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

Adalah Padepokan Kalang Kamuning yang menggelar tradisi Nyepuhan Parabot atau membersihkan gamelan. Dilaksanakan pada Selasa, 9 Jumadil Awal 1443 Hijriyah atau bertepatan tanggal 14 Desember 2021, tidak niatan lain hanya menghidupkan kembali tradisi Nyipuh Parabot yang sering dilakukan oleh kalangan seniman di Desa Cihideung di masa lalu.

Biasanya, upacara Nyepuhan Parabot digelar setiap tanggal 12 Rabi-ul Awal (Mulud) sekaligus memleringati lahirnya Nabi Muhammad SAW. Sedangkan di tahun ini digelar pada 9 Jumadil Awal, namun tidak mengurangi kehkhidmatan tradisi tersebut.

Karena masih dimasa pandemi Cobid-19, upacara digelar dengan protokol kesehatan. Hanya diikuti para penari, nayaga, sespuh padepokan dan benerapa tamu undangan yang jumlahnya terbatas.

Baca Juga: Viral di Medsos Pria Lakukan KDRT kepada Istrinya di Bandung, Kasat Reskrim Polrestabes Ungkap Motif Pelaku

Upacara diawali dengan keluarnya tujuh gadis yang masih perawan sambil.membawa bungbu (tabung bambu) berisi air dari tujuh mata air dikawasan Cihideung. Mereka menari diirimgi terebang yang dimainkan sekumlah nayaga. Air dari tabung bambu tersebut dimasukan ke dalam sebuah gentong yang ditutupi kain putih.

Sebelumnya juru kawih dan juru pantun ngahaleuangkeun lagu puja puji kepada Yang Maha Kuasa. Sementara sesepuh padepokan, Bah Nanu Muda (Mas Nanu Munajar) berdoa dengan khusuk sambil membakar kemenyan memouon perlindungam pada Allah SWT.

Sejuruh kemudian, tujuh gadis (penari) muda kekudian membukan kain putih panjang yang membungkus gamelan. Dan prosesi nyepuhan gamelan (membersihkan) dimulai. Gamelan dibersihkan memggunakan jerami padi(tangkal parè) yang kemudian diguyur air dari tujuh mata air oleh perwakilan kesepuhan dan tamu undangan, begitu seterusnya.

Prosesi Nyepuhan Gamelan diakhiri dengan ditabuh atau dimainkan gamelan oleh para nayaga dan diakhiri pantun Sunda oleh Mang Ayi.

Menurut Bah Nanu, Masyarakat Sunda khususnya Kabupaten Bandung Barat setiap tahun memperingati hari lahir Nabi Muhammad s.a.w pada 12 Rabi'ul-awwal (mulud).

Halaman:

Editor: Dicky Aditya


Tags

Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

PRMN TERKINI

x