Teater Koma Pentaskan 'J.J Sampah-Sampah Kota' dalam Versi Kekinian

- 8 November 2019, 10:54 WIB
Lakon dalam

KELOMPOK Teater Koma kembali mementaskan produksi terbaru berjudul "J.J Sampah-Sampah Kota", lakon yang sebenarnya pernah ditampilkan 40 tahun lalu. Namun kali ini ceritanya dibuat relevan dengan kejadian masa kini.

Disutradarai oleh Rangga Riantiarno, "J.J Sampah-Sampah Kota" berkisah tentang sepasang suami istri bernama Jian dan Juhro yang hidup di gubuk kolong jembatan. Jian bekerja sebagai kuli pengangkut sampah, digaji harian dan tidak punya jaminan masa depan.

Meski begitu, dia tetap bekerja dengan jujur, rajin, giat dan gembira. Bersama Juhro yang tengah hamil tua, dia hidup bahagia. Namun hidup tak semulus itu, Jian memiliki pengawas bernama Mandor Kepala dan tiga bawahannya yakni Tiga Pemutus.

Mereka ingin melihat sampai sejauh mana kejujuran Jian bisa dipertahankan. Suatu hari, Para Pemutus menjatuhkan tas berisi uang yang amat banyak di sekitar tempat Jian bekerja. Jian panik, mengambil tas tersebut atau mengembalikannya, apalagi sang istri segera melahirkan dan membutuhkan banyak biaya.

Naskah asli dari lakon yang ditulis oleh N. Riantiarno ini dipentaskan pada 1979. Masa 40 tahun memang bukan rentang waktu yang sebentar, namun orang-orang yang dianggap "sampah-sampah kota" oleh para penguasa ini masih banyak ditemui khususnya di daerah Jakarta.

Teater Koma menggambarkan hal tersebut persis dengan keadaan saat ini. Bagaimana orang miskin yang hidupnya serba pas-pasan masih harus tertimpa kemalangan yang bertubi-tubi, susahnya mencari keadilan hingga penguasa yang melakukan korupsi.

"J.J Sampah-Sampah Kota" juga memasukkan kalimat-kalimat sindiran yang kerap dilontarkan oleh tokoh masyarakat seperti "Saya prihatin" atau "Sabar, ini ujian" yang membuat penonton tertawa.

Tak hanya sindiran, pentas ini juga cukup membangkitkan emosi penonton, khususnya saat Juhro menyadari dirinya harus kembali menjadi pelacur untuk menghidupi anak yang baru dilahirkan, ditambah dengan lantunan lagu yang dinyanyikan olehnya semakin membuat penonton terbawa suasana.

Berbeda dengan 40 tahun lalu, Rangga sebagai sutradara memasukkan inovasi baru, yakni menghadirkan multimedia sebagai elemen baru. Salah satu tokohnya dimunculkan melalui sebuah layar LED. Menariknya tokoh Mandor Kepala ini juga berinteraksi dengan tokoh lain, bahkan bernyanyi.

Selain itu, dalam pementasan kali ini, Teater Koma juga tidak mengganti latar belakang panggung. Sepanjang pertunjukan, bangunan kumuh dan jembatan tetap menjadi tema utamanya.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X