Adu Manis Topeng Indramayu dalam Kupu Tarung

- 11 November 2019, 17:00 WIB

GEDUNG Teater Tertutup UPTD Pengelolaan Kebudayaan. Jawa Barat (Taman Budaya) menjadi arena pertempuran dua tokoh seni topeng Indramayu, Senin (11/11/2019) siang. Keduanya yakni Wangi Indriya (keturunan dalang topeng Indramayu dan wayang kulit, Taham dan Castinah) dan Aerli Rasinah (keturunan Mimi Rasinah, maestro topeng Indramayu).

Kedua tokoh seni topeng Indramayu yang juga bertindak sebagai dalang topeng Indramayu ini, menampilkan kaparigelan dan kemahiran menari topeng Indramayu dengan gayanya masing-masing dalam "Kupu Tarung", di hadapan seribuan penonton yang didominasi kalangan pelajar dan mahasiswa dari dua universitas, UPI dan ISBI Bandung.

Dua grup yang tampil yakni Grup Topeng “Sanggar Mulya Bhakti, pimpinan Wangi Indriya dari Desa Tambi Kidul, Kec. Sliyeg, Kab. Indramayu, dan  Grup Topeng Rasinah pimpinan Aerli Rasinah dari Desa Pekandangan, Kec. Pekandangan, Kab. Indramayu. Keduanya sengaja diundang UPTD Pengelolaan Kebudayaan untuk memperkenalkan lebih jauh tentang tari Topeng Indramayu kepada masyarakat Bandung, khususnya kalangan pajar dan mahasiswa.

Dibuka dengan penampilan tari Topeng Panji dari masing-masing grup, yang ditarikan langsung oleh pimpinan grup. Dari Sanggar Mulya Bhakti langsung ditarikan oleh Wangi Indriya, sedangkan dari Sanggar Rasinah oleh Aerli Rasinah. Topeng Panji yang menggambarkan lahirnya manusia ke dunia (Jabang Bayi) ditarikan oleh kedua pimpinan sanggar dengan sangat kalem, sekalipun gamelan yang ditabuh dari masing-masing sanggar sangat riuh untuk menyambut kelahiran sang bayi.

Disebut bayi, karena topeng yang dikenakan oleh penari berwarna putih bersih, belum ada polesan maupun warna apapun. Cukup lama keduanya menari topeng Panji. Yang kemudian disusul dengan topeng Rumyang yang menggambarkan masa anak-anak menuju remaja. Ini ditandai dengan gerakan tariannya yang agak centil.

Sebelum menuju tarian berikutnya, yakni topeng Permindo diselingi dengan golekan (candaan) oleh masing-masing golek. Di sini para penonton mengapresiasi dengan memberikan saweran pada masing-masing sanggar.

Kemudian tarian dilanjutkan dengan topeng Permindo dan Topeng Kelana (Klana). Ada dua topeng Kelana yang ditarikan yakni Kelana Gandrung dan Kelana Udeng, yang menjadi ciri khas Indramayu. Pada zaman modern, Tarian Topeng dipatenkan menjadi 5 jenis yang terdiri dari Panji, Samba, Rumyang, Tumenggung, dan Kelana (Gandrung). Untuk daerah Indramayu, selain Kelana (Gandrung) ditambah satu karakter topeng Kelana Udeng yang tidak ada pada daerah lain.

Tarian Udeng inilah yang menutup pertunjukan kupu tarung siang tadi.

Kelana udeng adalah salah satu karakter dalam cerita topeng yang diceritakan juga di golek cepak dari Sunda. Tarian ini bercerita tentang seorang Raja Blambangan yang hendak melamar Dewi Sekar Taji. Di saat bersamaan Panji juga hendak melamar Sekar Taji. Keduanya harus terlibat dalam pertarungan untuk mendapatkan Dewi Sekar Taji. Kelana udeng bercerita tentang Raja Blambangan saat kasmaran yang kalah bertarung dengan Panji. Ciri khas dari Kelana Udeng adalah karakter Kelana yang memiliki “bewok”.

Halaman:

Editor: Efrie Christianto


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X