Risiko Gangguan Mental Profesi Jurnalis Lebih Tinggi, Dibanding Militer dan Tenaga Medis

- 6 Desember 2019, 13:55 WIB

BANYAK pekerjaan atau profesi kini yang mendapat tekanan dan risiko beban tinggi, alhasil kesehatan juga ikut terganggu. Apalagi jika kita tidak bisa membagi waktu antara bekerja, istirahat, dan 'me time'. Buruknya bukan hanya sakit fisik, gangguan mental juga bisa terjadi.

Psikolog Sustrianan Saragih mengatakan, profesi itu ada pada militer dan para praktisi medis. Tapi lebih dari kedua profesi itu, Sustri menyoroti profesi jurnalis punya risiko gangguan mental yang jauh lebih besar. Ini karena beban pekerjaan dan tuntuan yang dialami sama bahkan lebih, namun dari sisi ekonomi jauh dibanding di militer dan praktisi medis.

"Alasan jurnalis lebih mudah depresi dibanding profesi yang lain ini, meski sama tertekannya. Profesi seperti dokter, perawat, atau militer itu karena dari sisi gaji lebih tinggi daripada jurnalis. Seperti ada tunjangan dan sebagainya, sedangkan jurnalis Indonesia jarang sekali mendapat tunjangan profesi," ujar Sustri yang dilansir dari Suara.com, Jumat (6/12/2019).

Menurut Sustri, alasan para jurnalis tidak bisa membagi urusan pribadi dan pekerjaan karena saat sampai rumahpun, mereka masih memikirkan pemberitaan, seperti memantau isu, proyeksi liputan dan sebagainya, padahal itu waktu istirahat.

Apalagi bagi yang sudah berkeluarga, biasanya dituntut lebih karena tidak punya waktu lagi. Terjadilah mudah marah, hubungan keluarga tidak harmonis karena komunikasi yang berkurang.

Dijelaskannya, sama seperti militer terkadang mereka menyaksikan kejadian negatif seperti kriminalitas di lapangan, dan itu bisa menyiksa mental secara tidak langsung. Begitu juga dengan perawat dan psikolog berhadapan dengan orang sakit dan bermasalah.

"Psikolog atau psikiater berhadapan langsung dengan orang-orang yang membawa masalah mereka. Masalah ini punya derajat emosi yang tinggi juga, kadang menangis dipukuli suami, ada banyak masalah dalam rumah tangga yang akhirnya datang untuk konseling," terangnya.

Lalu yang bisa dilakukan para psikolog ini harus bisa membagi waktu dengan benar, sampai di rumah tinggalkan urusan client dan me time bersama keluarga, berkomunikasi dan melakukan yang disukai atau sebagainya.

"Masalah client hanya dihadapi di ruang praktik, ketika di rumah ya me time, relaksasi, berelasi, berinteraksi dengan anggota keluarga. Jadi attachment, keterpisahan antara profesional dan privasi membantu lebih sehat jiwa," ungkapanya.

Halaman:

Editor: Kiki Kurnia


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X