Gali Strategi Budaya Indonesia Lewat Bedah Buku & Antologi Puisi Lilik Ahmad Alim

- 8 Desember 2019, 13:54 WIB
Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda menyematkan tanda tangan di lukisan Ketua FKGM-NU Jawa Barat Lilik Ahmad Alim tanda di bukanya Bedah Buku Antologi Puisi, Di Jalan Sancang Kota Bandung, Sabtu (8/12/2019) malam. /ist

FORUM Komunikasi Generasi Muda Nahdatul Ulama (FKGM-NU) menggelar Refleksi Budaya dan Bedah Buku Antologi Puisi "Mengetuk Pintu Langit" karya Lilik Ahmad Alim, di Sekretariat FKGM-NU Jabar, Jalan Ahmad Dahlan Kota Bandung, Sabtu (7/12/2019) malam.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda yang juga ketua DPW PKB Jawa Barat. Kegiatan ini juga diisi orasi budaya antara lain Syahri A. Tanjung, Kurnia Permana,Yosep Yusdiana, dan Iwan Setiawan, serta musik akustik Aap Akel.

Lilik Ahmad Alim Ketua FKGM-NU  Jawa Barat memaparkan landasan pemikirannya perihal hajat budaya yang diinisiasinya tersebut. Ia mengupas secara singkat soal strategi kebudayaan di era politik pascakebenaran atau politik pascarealitas (post truth).

Ia mengritisi soal kenyataan yang ada dari pembangunan ini. Hal yang terlihat dan yang sudah dihasilkan, apakah benar-benar merupakan output dari sebuah kebudayaan masarakatnya?

"Tentu pertanyaan ini sangat menggelitik, karena pembangunan yang sudah dilakukan pemerintah mulai dari pusat sampai daerah selama Indonesia merdeka. Pada kenyataannya semakin menggerus semua kebudayaan yang ada di Indonesia. Malah generasi muda merasa asing dengan budayanya sendiri," ungkap Lilik.

Menurutnya, pemerintahan Jokowi pernah mendorong dan mengadakan Kongres Kebudayaan Indonesia pada tahun 2018, yang menghasilkan tujuh poin agenda strategis kebudayaan. Kegiatan ini berdasar pada UU No 5 tahun 2017, tentang pemajuan kebudayaan.

"Undang-undang ini menjelaskan bahwa pemajuan kebudayaan adalah upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan," paparnya.

Ketujuh agenda strategis kebudayaan itu merupakan prioritas pemajuan kebudayaan nasional selama 20 tahun ke depan. Pertama, menyediakan ruang bagi keragaman ekspresi budaya dan mendorong interaksi budaya untuk memperkuat kebudayaan yang insklusif.

Kedua, melindungi dan mengembangkan nilai, ekspresi, dan praktik kebudayaan tradisional untuk memperkaya kebudayaan nasional.

Halaman:

Editor: Brilliant Awal


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X