Duta Seni Kabupaten Jember, Tradisi Harus Dihidupkan, Dipupuk dan Bertumbuh

- 11 Desember 2019, 21:29 WIB
KEPALA Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember, Dhebora Krisnowati Sumarahingsi, S.Pd., M.Pd dan Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo, SS, MM, saling bertukar cenderamata, menjelang acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur TMII Jakarta, Minggu (08/12/2019). /ist

Kesenian lokal dapat bergerak mengglobal. Berdialog dengan berbagai bentuk ekspresi, menjadi satu perkawinan; hybrid. Kemampuan melakukan hibriditas bagi seniman tradisi akan memberi ruang bagi budaya dan komunitas seniman lokal untuk melakukan resistensi sekaligus negosiasi dengan budaya dominan.

Demikian antara lain dikemukakan, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember, Dhebora Krisnowati Sumarahingsi, S.Pd., M.Pd kepada wartawan, menjelang acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Minggu (08/12/2019).

Budaya, kata Dhebora, tidak berlangsung satu arah, melainkan saling-tergantungan dimana tidak ada lagi liyan (the others). “Bahwa globalisasi bukanlah aliran satu arah dari barat menuju ke penjuru dunia, namun yang lokal pun bisa bergerak mengglobal,” ujar pejabat daerah yang senang menulis puisi ini.

Keberagaman seni tradisi di Kabupaten Jember, adalah sedikit contoh dari keberhasilan negosisasi ini. Kenyataan antropologis masyarakat Jember yang tidak bisa ditolak oleh siapapun -- yang sekarang hidup di Jember -- adalah keberagaman etnis dan budayanya.  Subkultur Blambangan, Jawa (Mataraman, termasuk Panaragan), Madura, Cina, Arab, Mandar, dan budaya lainnya, hingga kini masih memiliki pengaruh dan menjadi dinamika budaya (global) yang hidup di tengah masyarakat.

“Jember memiliki budaya Pendalungan, yaitu akulturasi budaya Jawa, Madura, dan lainnya. Kebudayaan ini melekat pada diri dan keseharian mereka, yaitu budaya yang berbeda satu sama lain, serta memiliki kekhasan. Tradisi ini harus dihidupkan, dipupuk dan bertumbuh,” ujar Dhebora.

Mengawali pergelarannya, duta seni Kabupaten Jember menampilkan tari ‘Buta’ Pango’dien’. Disusul penampilan para penyanyi yang melantunkan tembang ’Suwar-Suwir’ dan lagu ’Jember Indah’.  Drama tari ‘Sogol Pendekar Sumur Gemuling’ menjadi rangkaian puncak pertunjukan yang diawali tarian ’Hastungkara’ dan ’Bedaya Bumi Aji’.

Acara pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, harap Dhebora, dapat menjadi sarana promosi wilayah dan kearifan budaya lokal Kabupaten Jember. “Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai sarana pelestarian budaya tradisional. Mengembangkan seni budaya Kabupaten Jember di kancah Nasional. Agar lebih profesional, serta memiliki daya saing dan daya jual kami siap dikurasi, khususnya oleh para juri pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur ini,” ujarnya.

Turut menyaksikan pergelaran ini, Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo, SS, MM, serta beberapa pejabat daerah terkait, dan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kabupaten Jember.

Para seniman yang terlibat di pergelaran ini antara lain, Dhebora Krisnowati Sumarahingsi, S.Pd., M.Pd (Gagasan dan Ide Program), yang tak lain adalah Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember. Dhebora juga seorang guru dan penggiat budaya, serta produktif di bidang penulisan karya sastra.

Halaman:

Editor: boedi azwar


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X