Saat 'New Normal', Bisnis dengan 6 Kriteria Ini yang Dinilai Mampu Bertahan

- 27 Mei 2020, 09:04 WIB
ilustrasi

DUNIA bisnis merupakan salah satu korban dari krisis ekonomi global. Omzet menurun drastis, aktivitas marketing tidak berjalan, serta jumlah kerugian bisnis ditaksir mencapai ratusan triliun. Mulai dari bisnis kecil hingga bisnis dengan omzet triliunan pun terkena imbasnya.

Namun salah seorang pemilik bisnis teknologi Eric Yuan, CEO perusahaan teknologi Zoom, mampu mempertahankan bisnisnya dengan beradaptasi pada masa new normal. Bahkan Eric Yuan meraup keuntungan hingga ratusan triliun rupiah dari Zoom.

Eric Yuan melihat krisis ekonomi dan wabah Corona dari sudut pandang yang berbeda. Saat pemilik bisnis lain tetap menggunakan strategi dan cara yang biasa mereka gunakan saat masa normal, Eric Yuan melihat dari sisi "the new normal".

Oleh karena itulah Zoom menjadi aplikasi yang banyak digunakan bahkan menyaingi aplikasi meeting online lain.
Krisis ekonomi dan wabah Corona pada dasarnya "memaksa" pemilik bisnis untuk mengubah kebiasaan normal untuk menyesuaikan menjadi the new normal.

Apa yang dulunya normal tidak berlaku lagi pada kondisi sekarang. Sekarang adalah saatnya untuk membuat "the new normal". Membuat kehidupan normal yang baru. Sayangnya tidak semua pemilik bisnis ready untuk masa "the new normal".

"Pertanyaannya, mau sampai kapan hanya diam dan menunggu keadaan bisa normal seperti sedia kala? It is better to light a candle than to curse the darkness," begitu ujar Coach Yohanes G. Pauly.

Business Coach yang mencapai peringkat Business Coach No. 1 di tingkat dunia ini melalui sebuah sesi online workshop yang dihadiri ratusan pemilik bisnis mengungkapkan ada 6 syarat penting yang harus dilakukan oleh seluruh pemilik bisnis agar bisnis bisa bertahan pada kondisi the new normal yang disebutnya dengan ON+LINE:

1. On the Go
Syarat pertama pada kondisi the new normal adalah produk bisnis harus mudah untuk dibeli dengan dibawa, dikirim, dan diakses melalui mobile device oleh customer. Bagaimana bisnis bisa bertahan pada kondisi the new normal jika produk yang dijual tidak easy to buy?

Yohanes G. Pauly mencontohkan pada bisnis restoran yang awalnya hanya menyediakan menu untuk dine in yang kemudian mengubah sistem penjualan dengan menyediakan menu take away dan ready to cook frozen cook melalui aplikasi
smartphone yang lebih memudahkan customer.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X