Cebok Usai Kentut Tak Diakui Sebagai Umat Rasulullah? Simak Hadist Ini

- 10 Agustus 2020, 02:10 WIB
Ilustrasi kentut. /

GALAMEDIA - Tak bisa dipungkiri, kentut merupakan salah satu nikmat yang Allah berikan kepada mahluknya. Orang yang tidak bisa kentut akan mengalami penyakit dispepsia. Tentu akan butuh biaya banyak ke dokter untuk menyembuhkan penyakit susah kentut.

Namun demikian, walaupun kentut merupakan nikmat Allah, seorang muslim sebaiknya tidak kentut di sembarang tempat. Hal ini dilakukan untuk menjaga etika dan tatakrama pada orang lain.

Dalam hadis riwayat Aisyah, Nabi bersabda:

"Ketika kalian kentut saat sholat, maka tutuplah hidung kalian, dan kemudian beranjak keluar (dari jamaah shalat)."

Menurut Imam al-Khattabi, perintah menutup hidung itu termasuk bagian dari etika di hadapan banyak orang. Hal ini supaya orang lain menganggap bahwa menutup hidung itu merupakan ekspresi orang yang sedang mimisan, karena keluar darah dari hidungnya.

Dalam salah satu keterangan dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Thabari, dan Tafsir al-Qurthubi disebutkan bahwa salah satu tradisi buruk umat Nabi Luth itu membiasakan kentut sembarangan di muka umum.

Dalam fikih Syafi’i, kentut (flatus) merupakan salah satu penyebab yang membatalkan wudhu seseorang. Karena itu, jika seseorang ingin sholat atau memegang Al-Qur'an maka diwajibkan wudhu kembali.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa diwajibkan wudhu, tidak cukup cebok saja? Keluar kentut itu kan dari dubur atau anus, mengapa yang dibasuh bukan anusnya melainkan anggota wudhu, seperti wajah, tangan, dan seterusnya?

Pertama, dalil kentut membatalkan wudhu itu sudah jelas dalam Hadis Nabi.

Halaman:

Editor: Dicky Aditya


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X