Cerita Jurnalis Harus Jalani Isolasi Mandiri

- 30 November 2020, 22:51 WIB
Ilustrasi Covid-19. /Pixaba/geralt
 
GALAMEDIA - Tidak pernah terbayangkan harus melakukan isolasi karena sempat berhubungan dengan orang yang terkonfirmasi Covid-19.
 
Demikian yang dialami oleh Lufti Setia Rafsanjani, jurnalis salah satu televisi swasta yang bertugas di Kabupaten Sumedang.
 
Sebagai seorang jurnalis, Lufti mengaku sudah sangat berhati-hati dalam menjalankan tugas di lapangan. Alat pelindung diri seperti masker selalu dikenakan ketika melakukan peliputan.
 
 
Ia pun selalu mencuci tangan menggunakan sabun atau menyemprot hand sanitizer secara rutin, serta selalu menghindari kerumunan orang untuk memperkecil risiko terpapar virus.
 
Namun risiko datang bukan hanya dari orang-orang luar, tetapi orang dekat seperti teman pun bernilai sama. "Awalnya ada satu orang teman yang terkonfirmasi Covid-19," ujar Lutfi ketika ditemui di Cileunyi, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu. 
 
Teman yang dimaksud Lutfi adalah sesama jurnalis yang bertugas di wilayah sama. Orang tersebut baru saja ikut swab tes, namun tidak melakukan isolasi mandiri. Kerena ada keperluan, dia mendatangi sekretariat wartawan. Di sekretariat tersebut dia bertemu dengan 12 jurnlis lain, termasuk Lutfi.
 
 
Tanpa ada curiga, ke 12 jurnalis tersebut berinteraksi seperti biasa. Namun, beberapa hari kemudian, hasil swab jurnalis tersebut keluar dengan hasil terkonfirmasi Covid-19
 
Mengetahui hasil tersebut, membuat 12 orang jurnalis yang sempat berhubungan menjadi kaget. Pasalnya mereka baru bertemu beberapa hari, bahkan setelah jurnalis bersangkutan melakukan tes Swab, artinya mereka telah bertemu dengan orang yang terkonfirmasi Covid-19.
 
"Kami berkumpul dan sepakat melakukan isolasi mandiri di sekretariat. Ada 10 orang yang isolasi mandiri di sekretariat, 2 orang lagi isolasi mandiri di rumah masing-masing," ujarnya.
 
 
Isolasi mandiri dilakukan sebagai upaya pencegahan, apabila mereka terpapar Covid-19 tidak menularkan kepada orang lain, baik keluarga, maupun masyarakat umum yang tidak tahu apa-apa.
 
"Kami juga inisiatif melakukan tes swab sendiri dan difasilitasi oleh Dinas Kesehatan," ungkapnya.
 
Normalnya, hasil swab tes keluar dalam waktu 3-4 hari, namun kata Lutfi ternyata hasil swab baru keluar setelah 10 hari. Selama itulah 10 orang jurnalis tersebut melakukan isolasi mandiri di sekretariat.
 
 
Selama melakukan isolasi mandiri, mereka sama sekali tidak keluar. Untuk urusan makan dan minum pun difasilitasi oleh pihak luar. Penerapan protokol kesehatan pun dilakukan.
 
Mereka juga rajin olahraga untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, termasuk rutin berjemur pada pagi hari. Semuanya dilakukan secara bersama-sama.
 
"Tidak keluar selama 10 hari, tentu sangat merasa jenuh. Tapi mau bagaimana lagi, kami tidak ingin menjadi orang yang turut menularkan kepada orang lain," katanya.
 
 
Terlebih sebagai Jurnalis, mereka terbiasa berada di luar rumah seharian, sehingga harus berdiam diri merupakan hal yang menyiksa.
 
"Kebetulan saat sedang diisolasi ada kejadian besar yang membuat heboh secara nasional. Kami sangat ingin meliput kejadian tersebut, tapi apa boleh buat, hasil swab belum keluar," ungkapnya. 
 
Setelah menjalani 10 hari isolasi mandiri, hasil swab pun keluar, rasa lega didapat karena tidak ada satu pun dari mereka yang dinyatakan positif Covid-19.
 
Walau demikian, ada pelajaran yang diambil Lufti bersama rekan-rekannya. Kalau jangan terlalu percaya dengan siapapun, karena banyak kasus cairer dengan ketegori orang tanpa gejala (OTG), sehingga dengan siapa pun harus selalu menjaga jarak dan terus menjalankan anjuran pemerintah, yakni menjaga jarak, selalu kenakan masker dan mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer.
 
"Kalau sudah terpapar, kita sendiri yang akan rugi. Bahkan keluarga dan orang terdekat bisa terdampak. Lebih baik mencegah semaksimal mungkin," tutupnya.***

Editor: Dadang Setiawan


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X