Letjen Dudung Pakai Alasan Agama Soal Diorama G30S PKI, Refly Harun : 3 Sosok yang Mau Dihilangkan Rezim Ini

- 29 September 2021, 08:18 WIB
Refly Harun tanggapi soal Diorama G30S PKI
Refly Harun tanggapi soal Diorama G30S PKI /YouTube/Refly Harun


GALAMEDIA - Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen Dudung Abdurachman buka suara soal hilangnya patung diorama G30S PKI di Museum Dharma Bakti di Markas Kostrad.

Letjen Dudung mengatakan ketiga patung tersebut dibongkar atas permintaan Pangkostrad terdahulu, sekaligus penggagas patung diorama G30S PKI, Letjen (Purn) Azym Yusri Nasution. AY Nasution disebut Dudung merasa berdosa karena telah membuat patung-patung itu menurut keyakinan agamanya.

Menanggapi hal ini, pengamat politik Refly Harun menjelaskan terkadang ada sejarah yang tidak mau ditonjolkan oleh rezim tertentu karena dianggap tidak menguntungkan.

Baca Juga: Lesti Kejora dan Rizky Billar Dilaporkan Polisi, Raffi Ahmad Beri Tanggapan Tajam: Urusan Sama Allah SWT

Rezim saat ini menurut Refly, tidak menyukai ketiga tokoh dalam patung diorama G30S PKI yang dibongkar. Dan lebih menonjolkan sisi sejarah dari Presiden Pertama RI, Sukarno.

Sementara Ketiga sosok yang dimaksud yakni Presiden Kedua RI Soeharto, Letnan Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo, dan Jenderal AH Nasution, yang patungnya dibongkar atas permintaan AY Nasution.

Refly juga menyinggung adanya upaya menghilangkan ketiga sosok tersebut dari ingatan sejarah oleh pemerintah saat ini.

"Kenapa dihilangkan, ya karena ada tiga sosok yang tidak disukai oleh pemerintahan saat ini, karena tiga sosok ini adalah sosok yang mau dihilangkan dari ingatan sejarah oleh rezim ini. Karena tahun 65 itu justru tahun kejatuhannya sosok yang sangat dikuatkan di sini," ujar Refly dalam video di kanal Youtube Refly Harun.

Baca Juga: Arti Asmaul Husna: Al Barr, At Tawwab, dan Al Muntaqim, Mudah-mudahan Kerbaikan Selalu Menyertai Kita

Dalam videonya Refly menjelaskan peran Presiden Soeharto, Letjen Sarwo Edhie, dan Jenderal AH Nasution dalam membangun masa order baru, hingga Bung Karno yang dimakzulkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada saat itu.

Halaman:

Editor: Hj. Eli Siti Wasilah


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network