UMKM Sering Merugi, Alfamart Gelar Pelatihan Manajemen Retail

- 2 Desember 2019, 18:14 WIB

USAHA warung eceran yang menjual kebutuhan sehari-hari kerap kali menjadi pilihan untuk memulai usaha. Selain modal yang relatif kecil, pengelolaan yang dianggap mudah dan keuntungan yang relatif besar menjadi faktor penyebab masyarakat tertarik memiliki usaha warung eceran.


Sayangnya, tidak sedikit usaha mikro kecil menengah (UMKM) tersebut yang tidak berkembang, bahkan merugi karena pengelolaan yang tidak baik. Maka dari itu, UMKM membutuhkan pelatihan dan pembinaan agar usahanya terus berkembang.

Member Relations Manager Alfamart, Ngarno Firdaus mengatakan, penyebab kerugian pelaku UMKM salah satunya tidak ada pencatatan dan pemisahan antara barang yang menjadi modal usaha dengan barang untuk dkonsumsi sendiri.
Pada pelatihan tersebut, para peserta diberi materi terkait dengan manajemen penataan barang, pengaturan stok barang, manajemen keuangan (cash flow), tips mengamati tren pasar terkait produk yang sedang diminati, dan pelayanan.

"Sekarang kan semua serba digital. Jadi, para pedagang warung juga sudah harus melek teknologi. Memang memperkenalkan penggunaan teknologi kepada pedagang bukan hal yang mudah karena masih terbiasa menggunakan cara konvensional," tuturnya di Kantor Cabang Alfamart Bandung, Senin (2/12/2019).

Menurut Ngarno, mayoritas para pedagang telah menjalankan usahanya sesuai dengan prinsip manajemen ritel modern. Namun, yang menjadi kendala ialah pelaku UMKM belum memahami alasan penerapan prinsip tersebut.

"Misalnya, mengenai pentingnya pembukuan. Kebanyakan para peserta tidak membuat catatan pembukuan. Jadi. kalau ditanya tentang besar keuntungan harian yang diperoleh, mereka pada umumnya tidak tahu," katanya.

Padahal, jika UMKM memiliki catatan keuangan, pemilik warung dapat mengetahui keuntungan yang dihasilkan dan juga meningkatkan penjualan. Berdasarkan catatan tersebut pula, pedagang dapat melihat produk-produk dengan penjualan tinggi dan mengoptimalkan produk-produk yang penjualannya rendah.

"Kami juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya menata barang agar dapat menarik konsumen. Bukan hanya menjaga kebersihan, pemilik warung harus segera mengisi barang yang cepat habis agar jangan terjadi lost sales atau kehilangan potensi penjualan," jelasnya.

Peserta pelatihan, Hana (35) merasa senang dapat mengikuti pelatihan lantaran belum pernah mengikuti pelatihan retail. Setelah mengikuti pelatihan, ia mengaku, mendapat banyak tambahan pengetahuan.

"Saya pengguna ponsel pintar, tetapi kebanyakan hanya digunakan untuk chatting atau main media sosial saja. Ternyata melalui ponsel pintar sudah bisa membantu saya berjualan, memilih dan mengirim produk," tuturnya.

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X