Aplikasi Ur-Space Dorong Kesetaraan Gender dalam Pembangunan

- 3 Desember 2019, 05:52 WIB
Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana /Bagian Humas Setda Kota Bandung

SETELAH peningkatan kualitas selama empat bulan, aplikasi Ur-Scape berhasil menambahkan data-data tentang gender ke dalam basis datanya. Kini, Pemerintah Kota Bandung bisa menggunakan data gender untuk pengambilan keputusan dalam pembangunan kota.

Aplikasi yang sudah dilengkapi itupun diserahkan secara resmi kepada Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana di Balai Kota Bandung, Senin (2/12/2019).

Dalam rilis yang diterima galamedianews, Ur-Scape merupakan aplikasi perencanaan berbasis data sosial dan spasial. Aplikasi ini merupakan bagian dari program Future Cities Laboratory hasil kerja sama Kota Bandung dengan Asian Development Bank (ADB). Ur-Scape menjadi piranti yang penting untuk membantu para pemangku kebijakan untuk meningkatkan kualitas perencanaan kota.

Sebelumnya, pengembangan Ur-Scape berdasarkan pada data-data kemiskinan di Kota Bandung. Kini, dengan melibatkan ADB Gender Equity Thematic Group, Ur-scape menjadi media pengarusutamaan gender dalam perencanaan ruang kota.

Pengarusutamaan pada isu ini menjadi strategi penting dalam upaya memberdayakan perempuan dan mempromosikan kesetaraan gender di kota-kota dunia. Hal tersebut sejalan dengan visi kelima Sustainable Development Goals (SDGs), atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Chief of Gender Equity Thematic Group Sonomi Tanaka mengaku telah berupaya untuk menjadikan sistem ini sebagai media yang mempermudah peningkatan kualitas pembangunan, terutama dalam memperhatikan isu-isu gender.

“Kami sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana aplikasi ini bisa diimplementasikan dan dimanfaatkan untuk perencanaan kota,” ujar Sonomi.

Pada sistem terbaru ini, ada empat dimensi pengarusutamaan gender, yaitu mobilitas, aksesibilitas, partisipasi, serta keamanan dan keselamatan. Penerjemahan dimensi itu harus didukung dengan penggunaan data untuk memberikan pengertian yang lebih mendalam tentang konteks dan tantangan yang dihadapi perempuan yang hidup di perkotaan.

Pada dimensi mobilitas, perencanaan kota diharapkan bisa menyediakan moda transportasi yang memfasilitasi para perempuan, terutama bagi mereka yang bekerja atau menjadi kepala keluarga. Dimensi aksesibilitas memberikan ruang bagi perempuan untuk mengakses fasilitas umum, seperti pelayanan infrastruktur dasar (air bersih, toilet khusus perempuan, dsb), fasilitas umum, hingga layanan kesehatan.

Halaman:

Editor: Brilliant Awal


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X