Transportasi Massal Harga Mati Bagi Kota Bandung

- 8 Desember 2019, 18:07 WIB

KOTA Bandung baru saja memperingati hari jadinya yang ke-209 tahun pada 25 September 2019 lalu. Layaknya kota-kota besar lainnya di Tanah Air, Bandung sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat yang dulunya dikenal dengan sebutan Paris van Java, kini sudah tumbuh dan berkembang menjadi kota besar yang setiap harinya selalu diwarnai dengan berbagai aktifitas warganya.

Bahkan aktifitas kehidupan warga Kota Bandung pun berangsur-angsur mulai mengalami perubahan. Kalau sebelumnya denyut nadi Kota Bandung berhenti menjelang tengah malam, kini hampir dapat dikatakan selama 24 jam Kota Bandung selalu berdenyut. Dengan kata lain Kota Bandung sebenarnya memiliki posisi yang strategis sekaligus potensi yang sangat besar, untuk terus tumbuh dan berkembang sebagai kota megapolitan.

Memang disadari atau tidak Bandung sudah beraglomerasi menjadi kota metropolitan. Sebab itu diperlukan upaya koordinasi dengan daerah otonom hinterland- (perbatasan)-nya. Tujuannya, agar transportasi bukan menjadi barrier (pembatas) antar wilayah. Namun lebih jauh mampu menghasilkan sinergitas yang saling mendukung.

Bila diamati, karakteristik jalan-jalan di Kota Bandung yang tidak terlalu panjang dan berkelok-kelok atau banyak persimpangan, memiliki potensi untuk terjadinya penumpukan kendaraan. Terlebih lagi, hampir rata-rata jalan di Kota Bandung tidak terlalu lebar badan jalannya, sehingga sangat memungkinkan menyebabkan terjadinya kemacetan.

Kondisi semacam ini tampak semakin menjadi persoalan, manakala jumlah kendaraan baik roda dua maupun roda empat terus bertambah dari waktu ke waktu. Sementara lebar jalan lebih cenderung tidak berubah sama sekali atau tetap dari tahun ke tahun. Dampaknya lagi-lagi sudah dapat dipastikan, kembali akan terjadi kesemrawutan lalu lintas.

Kemacetan yang terjadi di sejumlah ruas jalan di Kota Bandung, berdampak pada kerugian material maupun immaterial yang tidak sedikit bagi warganya. Bahkan Prof. Ofyar Z. Tamin, seorang pakar transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pernah melansir, dari sisi materi saja kerugian akibat kemacetan ini per tahun mencapai puluhan miliar rupiah.

Kondisi tersebut baru dihitung dari dampak penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Belum lagi kerugian lain yang harus diderita pengguna jalan, seperti terlambat tiba di tujuan, kerugian waktu, stress di jalan, dll. Dengan kata lain, jika dihitung dengan kerugian waktu dan lingkungan, tentu tidak bisa dibayangkan berapa kerugian yang harus ditanggung dalam bentuk rupiah.

Pada hari libur, ternyata lalu lintas tidak lantas menjadi lengang. Malah pada beberapa ruas jalan seperti Dago, Cihampelas, Kopo, Sukajadi, Pasar Baru, Dalem Kaum, Martadinata (Riau), Cibaduyut, dan beberapa ruas jalan lainnya, mengalami kemacetan parah. Sebab itu dibutuhkan langkah serius dan komprehensinf dari semua, guna mencari solusi terbaik.

Angkutan massal

Halaman:

Editor: Efrie Christianto


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X