Blunder Militer Picu Tragedi Boeing 737, Turun ke Jalan Rakyat Iran Tuntut Ayatullah Khamenei Mundur

- 12 Januari 2020, 09:19 WIB

Pengakuan pihak militer Iran terkait jatuhnya pesawat Boeing 737-800 Ukraina hingga menewaskan 176 penumpang akibat human error (baca: salah sasaran) memicu aksi massa di Teheran. Aksi yang awalnya merupakan doa bersama bagi para korban berubah menjadi protes di sejumlah titik dan diwarnai teriakan "death to liars".

Dikutip dari DailyMail, Minggu (12/1/2020) massa yang marah menuntut pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Sayed Khamenei mundur. Mereka menyerukan "hukuman bagi pendusta" dan pergantian rezim. Massa juga menyerukan hukuman bagi pelaku yang bertanggung jawab dalam tragedi blunder militer tersebut.

Aparat pun turun guna membubarkan massa yang berkumpul di sedikitnya empat titik di Teheran. Sebelumnya pesawat Ukrainian Airlines Flight 752 yang mengangkut 176 penumpang, 130 di antaranya warga Iran jatuh dihantam dua rudal pasukan udara Garda Revolusi, beberapa saat selepas take-off dari Teheran, Rabu pekan lalu.

Sempat menyangkal, kemarin pihak militer mengakui terjadi human error yang memicu mis-identifikasi. Diperkirakan jet tempur musuh, keputusan yang diambil dalam 10 detik itu berakhir dengan tragedi. Di antara penumpang yang tewas berasal dari Kanada, Jerman, Inggris, dan Afghanistan.

Hingga Amerika dan Kanada melalui Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Justin Trudeau menggelar konferensi pers dan menyatakan pesawat ditembak jatuh, pihak Iran menegaskan Boeing 737-800 jatuh akibat persoalan teknis. Namun kemarin melalui tayangan TV pemerintah mengakui adanya kesalahan.

Peristiwa terjadi di tengah eskalasi antara Iran dan Amerika Serikat pasca-eksekusi komandan operasi klandestin Iran Qassem Soleimani atas perintah Washington. Pesawat sendiri lepas landas beberapa jam setelah serangan retaliasi Iran dengan sasaran dua markas militer AS di Irak.

Aksi massa yang menuntut mundurnya Ali Khamenei berlangsung di empat universitas di antaranya Sharif Industrial, Amir Kabir dan Allameh. Faksi-faksi anti-rezim berkuasa menyebut aksi merupakan refleksi massa yang frustrasi atas pemerintahan yang dinilai korup dan opresif.

"Protes ribuan warga di Teheran ini menjadi perlawanan atas propaganda kematian Soleimani," ujar Shahin Gobadi, juru bicara kelompok anti-rezim People's Mojaedin Organization. Sementara itu Brigjen Amirali Hajizadeh menyatakan permintaan maaf dan belasungkawa.

"Kuharap aku termasuk yang meninggal hingga aku tak harus menyaksikan peristiwa seperti ini," ujarnya dalam konferensi pers kemarin. Ia juga menyebut militer Iran memerintahkan larangan penerbangan di hari nahas tersebut tetapi hal ini tidak sepenuhnya dapat dijalankan.

Halaman:

Editor: Mia Fahrani


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X