DPR Tak Setuju Pemangkasan Uang Saku Haji 2020

- 17 Januari 2020, 18:17 WIB

UANG saku jemaah haji 2020 diusulkan dipotong dari jumlah sebelumnya di tahun 2019. Bila tahun lalu uang saku jemaah haji sebesar 1.500 Riyal, tahun ini diusulkan hanya 1.000 Riyal.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Ace Hasan Syadzily menyatakan tidak setuju.

"Kami tidak setuju pemotongan uang saku atau living cost jemaah haji yang setiap tahun mendapat 1.500 Riyal. Uang living cost haji 2019, 2020, dan tahun-tahun yang lain sangat berguna bagi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi," tutur Ace Jumat (17/1/2020).

Ditambahkan Ace, sisa uang saku haji biasanya digunakan jemaah untuk keperluan tak terduga. Misalnya untuk menunaikan haji tamattu. Untuk melaksanakan haji ini wajib membayar denda atau biaya dam sebesar 400-500 Riyal.

Ace mengatakan, pihaknya telah meminta Kemenag melakukan efisiensi pada komponen biaya yang lain. Komponen biaya haji ini misalnya biaya penerbangan atau pesawat. Dilansir dari detikcom, DPR juga meminta penghitungan ulang biaya penerbangan dengan penyesuaian asumsi mata uang dolar atas rupiah.

Terkait haji tamattu, bentuk ibadah ini dilakukan dengan mendahulukan umrah daripada haji. Jemaah datang ke Makkah di Bulan Haji dengan niat melakukan umrah bukan haji.

Setelah berihram dari miqat, jemaah kemudian melakukan umroh lalu berdiam diri di Makkah sambil menunggu hari Arafah untuk haji. Jemaah wajib membayar dan setelah umrah sambil menunggu haji. Saat menunggu, jemaah bisa bersenang-senang atau tamattu.

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X