Jumlah PKL yang Berjualan di Trotoar Kota Cimahi Diklaim Berkurang

- 23 Januari 2020, 18:21 WIB
Pembongkaran lapak PKL di Kota Cimahi, beberapa waktu lalu. /dok

JUMLAH pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di trotoar sejumlah titik di Kota Cimahi diklaim berkurang. Pasalnya satu tim petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) disiagakan untuk menghalau keberadaan mereka.

Kasi Pengendalian Operasi (Dalops) Dinas Satpol PP dan Damkar Kota Cimahi, Uus Saepudin mengatakan, setiap hari pihaknya menurunkan satu tim yang berjumlah 9 orang petugas di titik-titik yang banyak terdapat PKL berjualan.

"Sejauh yang saya lihat jumlahnya berkurang, karena kami turunkan petugas untuk berjaga-jaga. Seperti di depan rumah sakit umum daerah (RSUD) Cibabat, kami tanam anggota selama jam kerja. Apalagi PKL di sekitar Alun-alun sudah direlokasi, jadi jumlahnya berkurang," ungkapnya di Pemkot Cimahi Jln. Demang Hardjakusuma, Kamis (23/1/2020).

Menurutnya, PKL yang mangkal kini sudah tidak ada lagi. "Tapi yang pakai roda dan pakai mobil masih ada. Ini yang memudahkan mereka berjualan jika tidak ada petugas yang jaga, kalau ada petugas mereka bisa langsung pergi sama rodanya," ujar Uus.

Dijelaskan Uus, selain yang ditanam di RSUD Cibabat, pihaknya juga menurunkan petugas untuk patroli ke sejumlah titik yang biasa menjadi tempat mangkal para PKL. Menurutnya ada sejumlah zona merah yang kerap dijadikan berjualan para PKL, di antaranya di sekitar Cimindi, Jalan Amir Mahmud, Jalan Sriwijaya dan Jalan Gandawijaya. Ruas jalan tersebut biasanya menjadi tempat favorit para PKL.

"Sebenarnya semua yang di trotoar itu enggak boleh ada yang berjualan, karena itu merupakan hak pengguna jalan. Tapi masih ada saja PKL yang membandel," bebernya.

Permasalahan yang paling konkret soal penataan PKL ialah belum adanya lahan yang akan dijadikan ruang khusus untuk mereka.

"Selain alasan utamanya mencari nafkah, alasan lainnya karena tidak ada tempat untuk berjualan. Seperti PKL yang didepan RSUD, karena pedagang di sana berasal dari dalam yang dipindahkan keluar oleh pihak RSUD, sehingga mereka berjualan di trotoar," ungkapnya.

"Sebenarnya sih mereka tidak boleh berjualan disitu (trotoar). Tapi pada kenyataannya masih banyak yang jualan. Mereka biasanya kucing-kucingan. Ada petugas pergi, ngga ada (petugas) datang lagi. Makanya jualannya pakai roda agar bisa pindah," tambah Uus.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X