Menristek: Indonesia Harus Mulai Menciptakan Inovasi

- 24 Januari 2020, 17:01 WIB
Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro /ist

INDONESIA harus leluar dari zona nyaman untuk naik kelas menjadi bangsa berpenghasilan menengah ke atas. Caranya dengan tidak lagi mengandalkan sumber daya alam sebagai pemasukan negara, tetapi mulai bertumpu pada penciptaan inovasi-inovasi, seperti yang dilakukan Cina, Jepang dan Korea Selatan.

Hal itu dikemukakan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro. Masyarakat Indonesia, menurut Bambang, masih terlena dengan kekayaan sumber daya alam dan menganggap sumber daya alam yang akan menjadi ciri kemajuan Indonesia masa depan.

"Padahal, jika melihat negara-negara maju saat ini, seperti Cina, bukan sumber daya alamnya yang membuat negara tersebut maju, tetapi inovasinya. Begitu juga Korea Selatan dan Cina yang menjadi negara maju berkat inovasi masyarakatnya," tutur Bambang saat acara Dies Natalis Universitas Katolik Parahyangan ke-65 di Kampus Pascasarjana Unpar, Jalan Merdeka, Jumat (24/1/2020).

Contohnya Korea Selatan, kata Bambang, membuat telepon pintar yang dipakai banyak orang di seluruh negara. Bahkan Jepang, kini maju dengan industri otomotif dan pakaiannya.

Indonesia, menurut Bambang juga harus bertransformasi dari semula mengandalkan sumber daya alam, berubah menjadi bangsa yang bertumpu pada inovasi untuk memajukan ekonomi.

"Tanpa keluar dari zone nyaman dengan mengandalkan sumber daya alam, Indonesia akan jadi negara lower income terus," kata Bambang seperti ditulis wartawan "PR", Rani Ummi Fadila.

Dengan inovasi, nilai jual sumber daya alam Indonesia pun akan bertambah. Bambang mengatakan, Indonesia jangan terus-menerus sekadar mengeskpor bahan mentah, seperti biji cokelat dan nikel mentah.

Tetapi Indonesia harus mulai memberikan inovasi pada bahan mentah itu sehingga bernilai jual lebih tinggi. Misalnya, mengolah nikel menjadi baterai mobil listrik. Inovasi itu yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi.

Peneliti pun harus berperan pada penciptaan nilai tambah suatu produk. Contohnya Jepang yang mendapat penghasilan besar dari menjual suatu merek pakaian, padahal di Jepang tidak terdapat pabrik tekstil. Jepang lebih berfokus pada proses mendesain pakaian tersebut yang nilai jualnya lebih tinggi.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X