Pertama di Indonesia, Simulator Bagi Ahli Pembangkit Listrik

- 24 Januari 2020, 17:59 WIB
Peserta yang merupakan asesor di Pusat Pengembangan SDM Kelistrikan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementrian ESDM sedang mengikuti uji coba simulator pembangkit listrik, di Bandung, Jumat (24/1/2020). /Nuryani/

PERTAMA di Indonesia, Pusat Pengembangan SDM Kelistrikan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) Kementerian ESDM akan mulai menggunakan simulator dalam proses pelatihan dan sertifikasi kompetensi ahli pembangkit listrik. Setiap tahun tak kurang dari 5.000 orang mengikuti diklat dan sertifikasi kompetensi di PPSDM KEBTKE.

"Jadi untuk kelistrikan ini belum ada simulator. Akhirnya kita belajar teori saja. Sebetulnya di kantor kami ada, simulator untuk pembangkit listrik tenaga surya. Tapi skala kecil. Dengan adanya simulator intinya bagaimana pembangkit ini kita paham dulu sistemnya dengan simulator. Sebab kalau manual itu dalam pengambilan putusan tidak bisa cepat," terang Kepala Pusat PPSDM KEBTKE Laode Sulaeman, Jumat (24/1/2020).

Ditemui dalam acara Penandatanganan Kerjasama Kementerian ESDM dengan SIMGENIC Indonesia terkait sertifikasi kompetensi bidang Pembangkit Listrik berbasis Operator Training Simulator (OTS) di Bandung, Laode menuturkan, simulator menjadi sebuah kebutuhan untuk mendukung penguatan SDM. Saat ini di Indonesia ada lebih dari 100 pembangkit listrik.

Idealnya di semua pembangkit ini ada simulator sehingga pemahaman SDM akan lebih mudah selain juga jika ada masalah akan lebih mudah pula dalam mencari solusi.

"Dengan simulator semua bisa disimulasikan. Beda dengan manual, tidak bisa cepat. Kampus-kampus pun seharusnya sudah mulai memasukkan simulator dalam proses pembelajaran sehingga ketika terjun ke industri sertifikat kampusnya dilengkapi dengan sertifikat kompetensi yang mendukung ke industri," paparnya seperti ditulis wartawan "PR", Nuryani.

Apalagi, kata Laode, saat ini ada program pembangunan pembangkit 35 ribu megawatt yang akan dibangun di seluruh Indonesia. Dibutuhkan setidaknya 65 ribu tenaga kerja ahli di bidang tersebut yang semuanya harus disertifikasi.

"Data awal saja butuh 65 ribu tenaga kerja. Mereka semua harus sertifikasi. Dengan simulator maka prosesnya akan lebih cepat selain pemahaman yang juga lebih bagus. Beda dengan kita belajar teori saja," ujarnya.

Sementara itu Direktur Utama DAS Aviation Training Center (DATC) yang juga perwakilan SIMGENIC, Ikhsan Amin menuturkan, untuk mengendalikan pembangkit skala besar bukanlah hal yang mudah. Namun dengan simulator, SDM akan mampu mengoperasikan pembangkit baik dalam kondisi normal maupun saat kondisi darurat.

"Melalui penggunaan simulator dapat memberikan sistem pembelajaran tentang pembangkit listrik secara holistik dan terintegrasi, bahkan asesor dapat memilih berbagai skenario dalam uji kompetensi," tuturnya.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X