Coba Kembangkan Vaksin Covid-19, Kemristek Butuh Waktu Selama 12 Bulan

- 26 Maret 2020, 15:39 WIB
ilustrasi

KEMENTERIAN Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional akan mengembangkan vaksin Covid-19 dalam waktu kurang lebih 12 bulan. Langkah itu dilakukan melalui Konsorsium Covid-19 sebagai tim yang akan fokus pada penanganan Covid-19.

"Selain itu tentunya dengan terlibat dalam pengujian sampel kita harapkan dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Kita coba untuk mengembangkan vaksin untuk Covid-19," kata Menristek Bambang Brodjonegoro pada konferensi video bersama awak media di Jakarta, Kamis (26/3/2020).

Dia menuturkan, waktu 12 bulan untuk pengembangan vaksin terbilang cukup cepat. Namun akan diupayakan berbagai cara jika sekiranya dapat dikembangkan dalam jangka waktu yang lebih pendek.

Kemristek juga membuka kemungkinan untuk bekerja sama dengan pihak luar negeri yang juga ingin atau sedang mengembangkan vaksin untuk Covid-19 dalam rangka percepatan pengembangan vaksin itu.

"Secepat dan seakurat mungkin kita bisa menciptakan vaksin untuk penanganan Covid-19," ujar Menristek.

Meskipun jika ada pihak luar negeri yang berhasil memproduksi vaksin, bukan berarti Indonesia tidak menciptakan vaksin itu. Menurut Bambang, Indonesia harus mempunyai kemampuan untuk memproduksi vaksin tersebut karena vaksin Covid-19 dibutuhkan semua penduduk Indonesia. Selain itu, dunia juga membutuhkan vaksin itu.

Apalagi jika produksi vaksin Covid-19 di luar negeri itu masih terbatas untuk diekspor karena tentu akan terlebih dulu memenuhi kebutuhan penduduk dalam negeri masing-masing. Oleh karena itu, kemandirian bangsa Indonesia sangat dibutuhkan dalam memproduksi vaksin Covid-19 agar tidak bergantung pada luar negeri dan akan menjadi masalah ketika vaksin dibutuhkan dalam jumlah banyak secara mendesak, tapi suplai impor tidak mampu mendukung.

"Jadi kemampuan kita secara mandiri membuat vaksin itu sangat diperlukan dan tentunya komunitas Ristek/BRIN sudah siap untuk mengembangkan vaksin tersebut dengan didukung fasilitas yang sangat memadai seperi laboratorium bio safety level 3 di Eikjman dan LIPI," tuturnya.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan pihaknya sedang mendiskusikan pengembangan vaksin dengan para peneliti dan PT Bio Farma.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X