Pandemi Covid-19, Masyarakat Mulai Terjerat Rentenir

- 29 April 2020, 20:13 WIB
ilustrasi

DI tengah pandemi Covid-19, tepatnya mulai 16 Maret hingga 12 April 2020, terdapat 273 aduan dari masyarakat yang terjerat rentenir atau meningkatkan 20 persen dari bulan-bulan sebelumnya. Kebanyakan dari mereka mengadukan soal pinjaman online.

Ketua Harian Satgas Antirentenir Kota Bandung, Saji Sonjaya mengatakan, pihaknya tidak membuka layanan datang langsung ke kantor sejak work from home pada 16 Maret. Karena untuk mengurangi risiko pada masa pandemi Covid-19. Meski begitu, pihaknya tetap memberikan pelayanan, yang pertama adalah menerima laporan online melalui Call center 08112131020.

"Kalau laporan online ini kita berikan edukasi, kemudian kita langsung berikan strategi penanangan dan kita dampingi. Tapi pendampingannya mandiri. Pendampingan mandiri itu biarkan mereka menyelesaikan secara pribadi atau sendiri, tapi kita arahkan cara-caranya," tutur Saji, Rabu (29/4/2020).

Kemudian, kata Saji, pihaknya pun melakuka sosialisasi online melalui live IG "Ngabuburit dengan Satgas anti Rentenir". Pelaksanaannya tidak tiap hari, dalam satu bulan ini hanya diagendakan lima kali. Beberapa hari yang lalu dilaksanakan sosialisasi online yang pertama, dan kedua digelar Jumat (1/5/2020) ini.

"Dari penerimaan laporan online yang kita terima, ada peningkatan sekitar 20 persen. Tapi dari 20 persen itu hampir 80 persennya adalah mereka yang terjerat pinjaman online. Karena kita pengaduan dan sosialisasinya melalui online, kebanyakan yang ngadunya juga yang online yang terjerat pinjaman online. Kalau rentenirnya yang konvensional yang datang ke rumah, itu justru berkurang karena mungkin kita tidak menerima laporan onset jadi rata-rata melalui pinjaman online," ujarnya.

Berdasarkan catatan, pengaduan secara online dari 16 Maret hingga 12 April 2020 sebanyak 273 laporan dari yang biasanya dalam satu bulan sebanyak 150-180 aduan. "Sekarang kebanyakan debitur pinjaman online. Dari 80 persen pengadu pinjaman online itu, rata-rata mereka adalah orang atau nasabah yang gagal bayar dikarenakan mereka dirumahkan akibat pandemi Corona," terangnya.

Saji pun menyimulasikan pinjaman bagi orang yang memiliki gaji, jika yang bersangkutan gajian setiap tanggal 1 dan meminjam pada tanggal 2 atau 3 dengan tenor pinjaman 7 hari. Di hari keempat sudah dilakukan penagihan dan jika di hari ketujuh yang bersangkutan belum bayar, maka akan pinjam lagi sampai nanti tanggal gaji dia. Maka rata-rata orang yang pinjam ke pinjaman online dalam satu bulan itu tidak kurang ke empat aplikasi.

"Jadi gali lubang tutup lubang karena rata-rata tenor 7 hari. Pinjaman Rp 1 juta keterimanya cuma Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu, bunganya sekitar 20 persen dalam 7 hari," tuturnya

Mayoritas, kata Saji, pinjaman online itu ketika dicroscek tidak terdaftar di OJK. Tapi dalam faktanya, yang terdaftar atau tidak terdaftar sistem penagihannya diluar SOP debkolektor. "Intimidasi dan lain-lainnya banyak. Bahkan sekarang ada penaggihan yang agak nyeleneh itu suka ada orderan fiktif misalkan via gofood atau grabfood, padahal dia enggak pesen," terangnya.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X