Pemudik yang Dikarantina di Pangandaran Terpaksa Tidur di Lantai

- 1 Mei 2020, 19:10 WIB

MESKI sudah dilarang, masih saja ada warga yang nekat mudik ke kampung halamannya. Seperti halnya sejumlah warga Pangandaran yang selama ini mengadu nasib di Ibu Kota dan kota besar lainnya.

Mengantisipasi adanya pemudik di tengah pandemi Covid-19, Pemkab Pangandaran sudah menyiapkan tempat karantina atau isolasi. Salah satu lokasinya yaitu di kampus SMPN 2 Padaherang. Jadi mereka yang mambandel mudik, untuk sementara dikarantina di tempat tersebut.

Salah seorang pemudik, Lia Yulianti (19) mengaku baru pulang dari Bogor pada Kamis (30/4/2020). Ia pun terpaksa mengikuti anjuran pemerintah setempat dan menempati tempat karantina. Meski fasilitas di tempat karantina masih seadanya, Lia tak bisa berbuat banyak.

"Sebenarnya fasilitas yang ada di tempat karantina ini lumayan berbeda dari pertama kali saya datang. Sebelumnya saya tidur hanya menggunakan sehelai tikar beralaskan papan. Tapi sekarang kami mendapat fasilitas tambahan untuk tidur dengan menggunakan bantal dan kasur lantai, meskipun tetap tidurnya mah di lantai. Agak agak mending," tutur Lia, Jumat (1/5/2020).

Selain mendapatkan perbaikan fasilitas di tempat karantina, menurut Lia pemerintah setempat juga memberikan bantuan uang makan sebesar Rp 20 ribu/hari. Informasinya bantuan akan diberikan selama 14 hari atau jika dijumlahkan totalnya sebesar Rp 280 ribu.

Warga lainnya, yang terpaksa harus tinggal sementara di tempat karantina yaitu Indriyanti (20). Warga Pangandaran ini baru saja mudik dari Jakarta Barat dan tiba di lokasi pada pagi hari ini.

"Saya belum tahu bagaimana rasanya tidur di tempat ini, karena saya baru datang tadi pagi. Tapi juga saja, saya takut. Tempatnya sepi. Apalagi saya perempuan ya. Mudah-mudahan petugasnya banyak dan kami nanti disediakan fasilitas seperti TV dan yang lainnya," kata Indriyanti.

Fasilitas yang sangat diharapkannya, yakni dapur umum. Menurut dia, fasilitas itu sangat diperlukan apalagi saat ini warga banyak yang menjalankan ibadah puasa.

"Kalau bisa pemerintah bukan cuma ngasih uang makan saja, tapi sebaiknya menyediakan dapur umum. Jadi pada saat buka puasa maupun sahur nanti, minimal ada nasi dan lauk pauknya yang bisa dimakan. Sekarang kita makan untuk buka puasa dan sahur diantar keluarga. Tapi kan keluarga saya mah rumahnya jauh dari sini," keluhnya.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X