PSBB se-Jabar Harus Dilakukan Juga Tes Massal

- 6 Mei 2020, 13:01 WIB
SUASANA jalan Asia Afrika Bandung pada hari pertama PSBB Bandung Raya. /dok

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Jawa Barat menyambut baik diterapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di seluruh Provinsi Jawa Barat yang akan berlangsung selama dua minggu dimulai hari ini, Rabu, 6 Mei 2020 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 36 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) se-Jawa Barat.  PSBB di 27 Kabupaten/Kota Ini adalah PSBB terluas di Indonesia saat ini.

Keputusan pelaksanaan PSBB se- Jawa Barat ini mendapat lampu hijau setelah terbitnya Surat Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.0107/MENKES/289/2020. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menetapkan keuputusan tersebut setelah mendapatkan pertimbangan dan usulan dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tanggal 29 April 2020.

Menurut Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, penerapan PSBB sebelumnya di 10 Kabupaten/Kota telah telah berhasil menekan laju tren kasus positif Covid-19. Sebelumnya PSBB diterapkan di Bodebek (Kab/Kota Bogor, Kabupaten/Kota Bekasi dan Kota Depok) tanggal 15-28 April 2020 dan di Bandung Raya (Kota Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Kota Cimahi dan Kab. Sumedang) tanggal 22 April – 5 Mei 2020.

PSI Jabar memandang, momentum perpanjangan dan perluasan PSBB di Jawa Barat harus dimaksimalkan dengan pelaksanaan tes massal agar maping sebaran virus bisa lebih presisi. Jika ditemukan kasus positif bisa segera diisolasi dan ditelusuri riwayat kontaknya sehingga bisa dilakukan upaya memutus mata rantai infeksi. Apalagi tidak sedikit pengorbanan rakyat dan tanggungan negara untuk menerapkan PSBB se-Jabar.

Sebelumnya Pemprov Jabar sudah melakukan hampir 100 ribu rapid test dan berhasil mengidentifikasi 237 kasus positif sebagaimana yang disampaikan kepada media oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat sekaligus juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar Berli Hamdani pada saat konferensi pers di gedung sate (05/05/2020). Artinya dari 1.252 kasus positif, cuma 18,92 % yang diidentifikasi dari rapid test.

Metode rapid test memang lebih cepat hasilnya, bisa 15-20 menit, tapi sensitifitas dan spesifitasnya cuma 60-80% karena berbasiskan antibodi. Maka mereka yang terdeteksi dengan rapid test belum tentu positif Covid-19, bisa saja karena virus yang lain. Mereka yang terdeteksi perlu divalidasi lagi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan mereka yang tidak terdeteksi dengan rapid test perlu tes ulang lagi seminggu atau dua minggu kemudian, karena bisa saja waktu rapid test awal antibodi pasien yang baru terpapar belum berubah signifikan. Jadi rapit test perlu repeat test, perlu pengulangan tes.

Karena itu upaya Pemprov Jabar untuk menggeser rapid test menjadi tes PCR (Polymerase Chain Reaction) secara masif patut diapresiasi, karena sensitifitas dan spesifitasnya 95%. Namun 40 ribu alat tes PCR yang disiapkan menyambut PSBB se-Jabar ini dirasa masih kurang, cuma 0,08% jika dibandingkan dengan populasi Jawa Barat yang mendekati 50 juta pada tahun 2020 berdasarkan data BPS. Artinya cuma ada 800 pengetesan dari 1 juta penduduk.

Semoga saja dalam pelaksanaan PSBB se-Jabar yang berlangsung 14 hari ke depan, Kang Emil bisa menambah signifikan jumlah alat tes PCR untuk dibagikan ke seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Barat.


Halaman:

Editor: boedi azwar


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X