Warga Baduy Mualaf selama Ramadan Rutin Mengaji

- 16 Mei 2020, 20:26 WIB

MASYARAKAT Baduy yang memeluk  agama Islam atau mualaf di pemukiman Kampung Landeuh, Desa Bojong Menteng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten rutin melaksanakan pengajian mulai membaca Alquran hingga mendengarkan tausiyah yang disampaikan ustadz.

"Kami merasa tenang setelah memeluk agama Islam, bisa belajar mengaji untuk memperdalam nash Alquran, tauhid, fiqh dan ibadah shalat lima waktu juga puasa Ramadhan dan salat teraweh ," kata Kesih Samsiah (40) seorang mualaf warga Baduy, Sabtu (16/5/2020).

Masyarakat Baduy mualaf yang tinggal di Kampung Landeuh, Desa Bojong Menteng difasilitasi Yayasan At Taubah BSD Tangerang dengan membangun 45 rumah, namun baru dihuni 35 rumah dengan 120 jiwa.

Mereka tinggal di pemukiman itu sudah tiga tahun terakhir dengan lahan seluas lima hektare, termasuk pembangunan masjid.

Warga Baduy mualaf itu selama Ramadan lebih memperdalam kajian ilmu agama Islam, disampung anak-anak mereka mendapat bantuan dari yayasan untuk mengenyam pendidikan di sekolah umum dan pondok pesantren.

"Kami di sini bersama kaum ibu-ibu lainnya setiap hari menimba ilmu agama Islam melalui pengajian yang dipandu ustadz itu," katanya.

Dirinya memeluk agama Islam sejak usia 15 tahun bersama kedua orangtuanya dan kini bersama suami bernama Sudin (40) warga Baduy yang juga menjadi mualaf.

Saat ini, dirinya memeluk agama Islam berawal orangtuanya tinggal di perumahan yang berada di luar kawasan hak ulayat mayarakat Baduy dan menempati bangunan rumah yang menggunakan atap genteng dan tembok.

Penggunaan bangunan perumahan itu tentu bertentangan dengan adat Baduy, sehingga orangtuanya sangat keberatan dengan adat tersebut hingga orangtuanya bernama Arman sekeluarga memeluk agama Islam.

"Kami sekarang tinggal di pemukiman Kampung Landeuh dengan orangtua," kata Kesih.

Siti Halimah (50), warga Landeuh Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak mengaku bahwa dirinya juga keturunan dari nenek dan kakeknya asli keturunan suku Baduy, namun orangtuanya memeluk agama Islam.

Saat ini, dirinya merasa senang tinggal di perumahan yang dibangun Yayasan At Taubah karena bisa memperdalam ilmu agama Islam melalui pengajian dengan pola metode mendengarkan ceramah-ceramah yang disampaikan ustadz maupun kiyai.

Selain itu juga dirinya belajar iqro atau membaca alquran dengan tajwid.

Dalam pengajian yang disampaikan ustadz dan kiyai mengajak untuk bertaqwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Disamping itu juga menebar kebaikan, kasih sayang, hidup damai, rukun juga toleransi hingga mencintai Tanag Air sebagi bentuk orang bertaqwa.

Sebab, ciri-ciri orang yang beriman itu wajib beriman kepada Allah Swt dan Rasulnya juga patuh dan taat terhadap pemerintah.

"Kami merasa bersyukur memeluk Islam dan bisa mengikuti pengajian hingga menambah wawasan dan pengetahuan ajaran Islam lebih luas," katanya.

Sementara itu, Yani (35) warga Baduy mualaf mengaku dirinya tinggal di pemukiman Kampung Landeuh bersama suami bisa mengikuti pengajian secara langsung dengan belajar membaca Al Quran.

Para ustadz dan kiyai menuntun membaca Al Quran dengan baik dan benar, seperti Surah Alfatiha dan surah lainnya.

Biasanya, pelaksanaan pengajian untuk kaum ibu-ibu dilaksanakan setiap hari mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB, sedangkan, pengajian untuk kaum bapak-bapak dogelar pukul 20.00 WIB sampai 22.00 WIB.

Namun, selama Ramadan pengajian rutin dilaksanakan untuk menongkatkan keimanan kepada Allah Swt.

"Kami dan keluarga merasa bahagia bisa mengikuti pengajian itu, karena Islam ternyata diwajibkan belajar untuk memiliki ilmu pengetahuan," katanya menjelaskan.
 

Editor: Kiki Kurnia


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X