Rektor UNS: Negara Harus Punya Skenario 100 Hari Hidup Berdampingan dengan Covid-19

- 26 Mei 2020, 14:18 WIB

NEGARA saat ini harus mempunyai skenario 100 hari hidup berdampingan dengan Virus Corona (Covid-19). Pasalnya, penambahan jumlah angka positif Covid-19 dalam 3 hari terakhir semakin besar, sehingga cukup mengkhawatirkan dan harus disikapi.

Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, mengungkapkan hal itu dalam sambutannya pada silaturahmi tahunan halal bi halal sivitas akademika UNS yang dilakukan secara daring, Selasa (26/5/2020). Sedangkan hikmah Idulfitri disampaikan Prof. Dr. Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, yang merupakan anggota Dewan Penyantun UNS.

"Sikap nyepi bersama, mungkin adalah bagian dari skenario yang harus disiapkan. Nyepi, dalam budaya Jawa merupakan sebuah ajaran yang dibawa Aji Saka berupa huruf Jawa ha na ca ra ka yang aturannya sudah baku," katanya.

Jika kita meminjam terminologi lockdown, menurut Prof. Jamal, membuat orang bingung dalam tataran istilah maupun pemahaman. Karena dalam teori krisis, intervensi sosial apapun yang dilakukan harus sinkron dengan nilai-nilai tradisi dan pranata sosial.

Di bidang pendidikan, Rektor UNS menyatakan, mungkin tidak perlu menghujani siswa dan mahasiswa dengan tugas-tugas yang menumpuk, tetapi mendorong agar mereka membuat laboratorium sekolah di rumah. Dia menyebut contoh, siswa menghitung jumlah kalori yang masuk ke tubuhnya setiap hari terkait dengan pelajaran olahraga, biologi, fisika, statistika, matematika dan kimia.

Selain itu, siswa melakukan kegiatan menyapu halaman rumah yang terkait dengan pelajaran PHBS (perilaku hidup bersih sehat) dan pelajaran algoritma.

"Jika kita tidak ada skenario pendidikan seperti ini, sudah hampir 3 bulan siswa bersekolah online dari guru yang sama sekali belum pernah mengajar online, maka suatu hari kita akan kehilangan satu generasi yang terampil dalam pengetahuan. Film horor berjudul Covid-19 ini, harus berkesudahan dengan happy ending. Untuk itu, seorang sutradara harus mempunyai skenario yang baik dan lengkap," tandasnya.

Menyinggung momentum Ramadan dan Idulfitri yang tahun 2020 ini bersamaan dengan pandemi Covid-19, Prof. Jamal berpendapat, Idulfitri di tengah pandemi yang melanda seluruh dunia justru bisa dijadikan refleksi diri. Dia mengamati, sudah 2 bulan lebih kita mengajar dan mengajari hidup secara synchronous, yaitu menempatkan diri pada waktu yang sama untuk saling bertemu bertatap muka meski di ruang yang berbeda.

"Mungkin inilah cara Tuhan mengajari kita untuk berdialog dan berkontenmplasi dihadapan-Nya. Bahwa kita semua ini, tanpa terkoneksi dan terhubung kepadaNya, adalah lemah, rapuh dan kosong. Sedangkan makna lainnya, adalah kita meng-sinkron-kan hati kepada sesama, kepada mahasiswa, kepada teman sejawat dan kepada handai taulan. Sinkron dalam pemikiran, yang berujung tidak hanya kepada sikap toleransi tapi kepada sikap respek dan saling menghargai," jelasnya.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X