Reaktif Rapid Test, Belum Tentu Positif Covid-19

- 29 Mei 2020, 13:25 WIB

UNTUK memutus mata rantai penyebaran penyakit akibat virus corona (covid-19), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 gencar melakukan Rapid Test Diagnostic (RDT) antibodi di berbagai tempat dan kesempatan kepada berbagai kalangan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung melalui Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Kesehatan (Yankes) dr. Riantini menerangkan, RDT antibodi merupakan metode skrining awal untuk mendeteksi adanya antibodi.

“Antibodi berupa IgM (Immunoglobulin M) akan diproduksi tubuh setelah 7 hari terpapar virus. Sedangkan IgG (Immunoglobulin G) muncul setelah 14 hari. Terdeteksinya IgM menandakan pasien tengah terinfeksi akut, sementara bila terdeteksi IgG menandakan pasien dalam masa pemulihan,” terang Kabid Yankes melalui siaran persnya, Jumat (29/5/2020).

Penggunaan RDT antibodi ini dianggap paling mudah, karena tidak memerlukan fasilitas laboratorium yang canggih dan hasilnya cepat didapat.

“Dalam waktu kurang dari 1 jam, biasanya sudah bisa didapatkan hasilnya. Apakah seseorang kemungkinan terpapar covid-19 atau tidak. Hasilnya akan berupa garis yang muncul 10–15 menit setelahnya. Namun perlu dipahami, bahwa hasil dari RDT antibodi, tidak serta merta menjadikan seseorang dikatakan menderita covid-19 atau tidak,” urainya.

Prosedur pemeriksaan RDT antibodi dimulai dengan mengambil sampel darah dari ujung jari, kemudian diteteskan ke alat rapid test. Selanjutnya, cairan untuk menandai antibodi akan diteteskan di tempat yang sama.

“Bila hasil tesnya reaktif, tidak perlu panik. Karena antibodi yang terdeteksi alat tes, bisa saja antibodi yang terbentuk akibat virus lain selain corona. Untuk memastikannya, harus dilakukan swab dan dikonfirmasi dengan tes yang direkomendasikan WHO (World Health Organization), yaitu rRT-PCR (real-time Reverse Transcriptase - Polimerase Chain Reaction)," beber Riantini.

Tes PCR itu sendiri, kata dia, hasilnya membutuhkan waktu hingga berhari-hari. Selama menunggu hasilnya, pasien harus menjalani isolasi mandiri selama paling sedikit 14 hari. Selama isolasi mandiri, pasien harus menghindari bepergian maupun kontak dengan orang lain yang tinggal serumah. Selain itu harus menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain, dan mengenakan masker saat harus berinteraksi.

"Seorang pasien dinyatakan sembuh atau clear dari covid-19, setelah menunjukkan hasil negatif usai dilakukan rRT-PCR dua kali berturut-turut," kata dia.

Halaman:

Editor: Kiki Kurnia


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X