Indonesia Berkomitmen Buat Vaksin Covid-19 Sendiri

- 29 Mei 2020, 18:18 WIB
Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19, Kemenristek/ BRIN, Prof. dr. Ali Gufron Mukti, PhD, menyerahkan surat penetapan penerima dana riset dan inovasi Covid-19, bagi dosen UNS kepada Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho.

BANGSA Indonesia ingin memanfaatkan momentum pandemi Covid-19 untuk bisa membuat vaksin sendiri, meskipun tidak semua penyakit bisa dibuat vaksinnya. Saat ini, setidaknya ada lima lembaga riset, yaitu Lembaga Riset Eijkman, Universitas Indonesia (UI), Universitas Brawijaya (Unibraw), Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), yang mengajukan proposal penelitian vaksin Covid-19 ke Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), semua disetujui pembiayaannya. 

Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19, Kemenristek/ BRIN, Prof. dr. Ali Gufron Mukti, PhD, mengungkapkan hal itu kepada wartawan, seusai menyerahkan surat penetapan penerima dana riset dan inovasi Covid-19, bagi dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jumat (29/5/2020). Berdasarkan surat penetapan tersebut, UNS meloloskan 13 proposal penelitian terkait Covid 19 yang diajukan tim riset dosen UNS dan diterima Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho. 

"Sampai saat ini, memang tidak semua penyakit seperti HIV Aids dan DHF tidak ditemukan vaksinnya. Tetapi untuk Covid-19,  kita bangsa Indonesia berkomitmen paling tidak mengupayakan agar mampu membuat vaksinnya, baik dikerjakan sendiri atau melalui kerjasama," ujarnya. 

Proposal penelitian yang diajukan pembiayaannya ke Kemenristek/BRIN, menurut Prof. Ali Gufron, tidak hanya dimonopoli bidang eksakta tetapi juga bidang humaniora. Namun dia menegaskan, proposal yang dipriotaskan dalam riset yang terkait Covid-19 mencakup empat bidang, yaitu pertama menyangkut masalah prevensi atau pencegahan Covid-19. 

Di antara proposal yang disetujui pembiayaannya, mulai dari pemanfaatan kekayaan sumber daya alam, seperti empon-empon, jahe merah, jambu biji, kulit jeruk, sambiloto dan sebagainya. Selain itu, juga riset untuk menghasilkan vaksin dan upaya peningkatan daya imunitas.

"Jumlah lembaga yang mengajukan proposal memang tidak banyak, yaitu dari Lembaga Penelitian Eijkman, dari UI  Unibraw, Unair dan UGM. Itu, karena penelitian untuk menghasilkan vaksin perlu laboratorium canggih dan biaya mahal. Kini Kemenristek/BRIN sedang merintis pembentukan konsorsium penelitian vaksin, untuk merealisasikan vaksin produksi Indonesia sendiri," jelasnya. 

Prioritas berikutnya, sambungnya, proposal yang dibiayai adalah penelitian terkait dengan screening dan diagnosis, seperti rapid test, PCR dan semacamnya. Berikutnya, penelitian pengobatan, seperti pemanfaatan pil kina dan lain-lain, serta prioritas keempat adalah riset yang menghasilkan inovasi alat kesehatan, seperti APD, ventilator, robot dan sebagainya. 

Menyinggung proposal penelitian humaniora, Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19, menyebutkan, semua yang terdampak Covid-19, seperti penelitian tentang model pemberdayaan UMKM, model bantuan sosial yang tepat seperti apa dan sebagainya, disetujui pembiayaannya. Termasuk proposal penelitian tentang PSBB untuk mendapatkan model yang pas dengan regulasi dan dapat mengubah perilaku masyarakat, seperti model Jaga Tetangga, lolos seleksi untuk mendapatkan pembiayaan.  

Ketika menyerahkan surat penetapan yang dihadiri para peneliti UNS, Prof. Ali Gufron, mengingatkan, hasil penelitian  jangan hanya berhenti sampai publikasi yang merupakan keharusan. Tetapi riset yang dibiayai negara ini harus dapat menghasilkan teknologi tepat guna yang mampu memberikan nilai tambah, untuk mengurangi ketergantungan kita dari produk impor. 

Halaman:

Editor: Efrie Christianto


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X