Aksi Massa BLM Guncang Belasan Kota Amerika Serikat, Trump Siagakan Unit Elite Polisi Militer

- 30 Mei 2020, 16:16 WIB

Rusuh yang berlangsung di belasan kota Amerika Serikat hingga Jumat malam membuat Pentagon mengambil langkah yang terakhir kali dilalukan 28 tahun lalu saat kerusuhan melanda Los Angeles pada 1992. Pentagon memerintahkan unit angkatan bersenjata Polisi Militer (PM) untuk bersiaga.

Dikutip dari DailyMail, Sabtu (30/5/2020) skuad PM siap diturunkan ke jalanan Minneapolis yang menjadi awal aksi massa bertagar Black Lives Matter (BLM). Warga memprotes perlakuan aparat atas warga kulit hitam George Floyd yang meregang nyawa akibat kehabisan napas.

Flyod kesulitan bernapas setelah anggota kepolisian Derek Chauvin mengunci lehernya dengan lutut selama lebih dari delapan menit. Empat hari berlalu protes meluas ke berbagai kota termasuk kota asal korban di Houston hingga Gedung Putih, New York, Atlanta dan terakhir Los Angeles.

Tiga orang sumber DM menyebut tentara dari markas militer Fort Bragg North Carolina, Fort Drum New York, Fort Carson Colorado dan Forth Riley Kansas juga dalam posisi siap diturunkan. Perintah datang langsung dari Presiden Donald Trump melalui Sekretaris Pertahanan Mark Esper.

Pejabat senior Pantagon mengatakan perintah datang setelah aksi protes di Minneapolis berlangsung tak terkendali hingga berujung pembakaran kantor polisi dan panjarahan. Jika benar dilaksanakan intervensi federal ini mengikuti langkah pemerintah saat amuk massa pecah di tengah proses peradilan Rodney King pada 1992.

Eksekusi dilakukan berdasarkan Pasal Pemberontakan 1807. Menanggapi ini pengacara yang juga pakar keamanan nasional asal Washington DC, Brad Moss menilainya sebagai opsi berisiko. 

"Jika ini keputusan akhir presiden maka akan menandai eskalasi dan determinasi sejumlah kota yang sangat mungkin tidak sepakat," ujarnya. Dikatakan tak kurang dari 800 tentara AS dari markas militer Forth Drum sudah disiagakan.

Protes pertama kali pecah di Minneapolis empat hari lalu setelah viral klip yang menunjukkan detik-detik akhir George Floyd. Ia ditangkap setelah diketahui bertransaksi dengan uang palsu. Floyd pun digiring dengan tangan terborgol dan terkunci dalam posisi telungkup.

Tiga aparat menguncinya dengan lutut. Salah satunya Derek Chauvin tepat di saluran pernapasan. Tak mengindahkan Floyd yang berkali-kali mengatakan tak bisa bernapas, warga Houston tersebut mengembuskan napas terakhir dalam hitungan menit.

Halaman:

Editor: Mia Fahrani


Komentar

Terkini

X