Mempersiapkan New Normal, Pesantren Harus Diutamakan

- 30 Mei 2020, 19:30 WIB

NEW normal menjadi tahapan yang akan dilakukan setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Secara bertahap seluruh aktivitas akan kembali berjalan dengan normal, namun masih dalam batasan tertentu dengan penekanan protokol kesehatan.

Berbagai persiapan akan dilakukan pemerintah dalam menghadapi new normal. Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Asep Syamsudin berharap Pemerintah Provinsi Jawa Barat lebih memperhatikan pesantren saat pemberlakuan new normal setelah PSBB tidak lagi diperpanjang.

Bukan tanpa alasan untuk memperhatikan pesantren dalam new normal. Lembaga pendidikan berbasis keagamaan ini, selalu memberi kontribusi terhadap pembangunan karakter, sehingga harus menjadi perhatian lebih dari pemerintah.

"Santri harus dilindungi dari sisi kesehatannya," tutur Asep.

Hal pertama yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan pendataan pesantren. Dari pendataan tersebut, pemerintah bisa melakuakn klasfifikasi pondok pesantren berdasarkan jumlah santri juga jenis pesantrennya.

Ada beberapa klasfikasi pesantren, di antaranya salafi, khalafi juga gabungan antara salafi dan khalafi. Dari tiga klasifikasi tersebut pemerintah bisa melakukan penanganan sesuai dengan karakteristiknya.

"Pesantren salafi atau semi salafi, biasanya pondokan atau kobong itu diisi oleh belasan sampai puluhan santri. Tentu kondisi ini secara standar kesehatan tidak bagus, makanya harus dilakukan penanganan khusus atau memberi solusi supaya tidak menjadi episentrum penyebaran virus," paparnya.

Pun dengan pesantren lainnya, seperti khalafi dan gabungan antara khalafi dan salafi, harus menjadi perhatian.

"Sekarang ini menghadapi penerimaan santri baru. Pemerintah harus turun melakukan rapid tes kepada semua calon santri, supaya saat di pondok, seluruh santri bisa belajar dengan aman dan nyaman tanpa ada rasa ketakutan terpapar virus," katanya.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X