Kelahiran Generasi Milenial Jadi Titik Kritis Masa Depan Bangsa Indonesia

- 1 Juni 2020, 16:00 WIB
Rektor UNS, Prof Jamal Wiwoho, memimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2020 secara daring, Senin (1/6/2020).

TITIK kritis bagi masa depan bangsa Indonesia yang perlu disikapi dengan bijak, adalah lahirnya generasi milenial di tengah masifnya perkembangan teknologi informasi saat ini. Hal itu akan membawa konsekuensi negatif, jika tidak kita rawat dan kita jaga eksistensinya.

"Generasi ini dalam sekejap akan memainkan peranan penting dalam kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka sangat kreatif dan inovatif dengan ide-ide kebaruannya dan hidup di era yang serba otomatis, serta terkoneksi antara satu dengan lainnya, sehingga sangat rentan oleh berbagai pengaruh," kata Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, dalam amanatnya pada peringatan Hari Lahir Pancasila 2020, Senin (1/6/2020).

Dalam upacara tersebut, sivitas akademika UNS mengikuti secara daring. Peserta upacara yang terdiri dari para pimpinan universitas, anggota senat, dan pejabat eselon I dan II, mengikuti melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting.

Di depan peserta upacara, Prof. Jamal menyatakan, dalam membentengi dan meluruskan niat baik generasi milenial, kampus merupakan tempat strategis untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa.

"Penanaman nilai-nilai melalui sistem dan dinamika kekinian itu, akan menjadi bekal hidup dan keselamatan generasi melenial sebagai generasi penerus bangsa," tandasnya.

Sebelumnya Rektor UNS menjelaskan, pandemi Covid-19 telah mengubah seluruh tatanan kehidupan masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Kehidupan baru dengan cara-cara baru dan tidak terbiasa, antara lain jaga jarak, harus diam di rumah saja, menggunakan masker dan lain-lain, kini dijalankan sehari-hari dan bahkan menjadi pola kehidupan baru masyarakat.

"Meskipun awalnya kita khawatir dengan perubahan kebiasaan, kultur dan tradisi masyarakat tersebut, namun ternyata ada hikmah yang luar biasa di balik pandemi Covid 19. Rasa solidaritas, gotong-royong, kesetiakawanan dan kepedulian sosial melalui berbagai aksi kemanusiaan yang merupakan pengejawantahan nilai-nilai Pancasila, justru marak dimana-mana. Kegiatan yang dilakukan masyarakat tersebut, menunjukan kehadiran sekaligus menguatkan Pancasila diberbagai aktivitas," jelasnya.

Prof. Jamal Wiwoho menegaskan, aksi solidaritas, gotong-royong, hidup rukun berdampingan dan nasionalisme tersebut merupakan langkah yang sangat kecil. Namun dia mengakui, langkah kecil tersebut memiliki daya magis yang dapat membongkar sekat perbedaan. Sehingga setiap orang terpanggil melakukannya dan saling menguatkan moral bangsa Indonesia dalam menghadapi dinamika perubahan dewasa ini dan yang akan datang.

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X