Pemkab Garut Berupaya Pulangkan 19 Warganya yang Tedampar di Papua

- 1 Juni 2020, 22:09 WIB
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Garut, Muksin.

SEJUMLAH warga Kabupaten Garut saat ini terdampar di Provinsi Papua. Mereka tak bisa pulang ke Garut dikarenakan terdampak kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan Pemerintah setempat.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Garut, Muksin, membenarkan adanya sejumlah warga Garut yang terdampar di Papua tersebut. Menurutnya, saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut tengah berusaha untuk dapat memulangkan mereka.

"Benar, kami telah mendapat laporan terkait adanya sejumlah warga Garut yang terdampar di Papua. Kami juga turut merasa prihatin. Kami sudah berkoordinasi dengan koordinator warga Garut yang ada di Papua, Asep Kuswara," ujarnya, Senin (1/6/2020).

Menurut Muksin, pihaknya juga telah meminta kepada Asep Kuswara agar melakukan pendataan terkait jumlah warga Garut yang saat ini terdampar di Papua. Ia juga menyampaikan adanya rencana dari Pemkab Garut untuk membantu memulangkan mereka dari provinsi Papua.

Muksin menyebutkan, dari hasil pendataan yang dilakukan, diperoleh keterangan jika saat ini ada sebanyak 19 orang warga Garut yang terdampar di Papua dan menginginkan untuk segera pulang ke Garut. Pihaknya pun saat ini sudah mengantongi identitas ke 19 warga Garut tersebut.

"Sebelumnya, 19 warga Garut tersebut berangkat ke Papua untuk bekerja dan berdagang di sana. Mereka terdiri dari beberapa kelompok. Ada kelompok yang bekerja di proyek pembangun kandang ayam, tukang pangkas rambut, jualan dan pasang plafon rumah, dan ada juga yang berjualan kacamata," ucapnya.

Muksin menyebutkan, sebenarnya di Papua mereka mempunyai penghasilan karena semuanya punya usaha dan pekerjaan. Namun ketika pekerjaan mereka selesai, mereka tak bisa pulang karena terbentur aturan PSBB yang diterapkan pemerintah setempat.

"Bandara di Papua tutup seiring dengan adanya kebijakan penerapan PSBB di Papua. Hal inilah yang membuat mereka tak bisa pulang sehingga terpaksa harus bertahan disana," katanya.

Muksin menuturkan, akibat kondisi tersebut maka persedian perbekalan mereka pun terus menipis. Uang hasil mereka bekerja terpaksa terus digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari meskipun di Papua, mereka juga mendapatkan bantuan dari Paguyuban Sunda Ngumbara yang ada di sana.

Halaman:

Editor: Kiki Kurnia


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X