Dampak Covid-19, Primajasa per Bulan Merugi Hingga Rp 45 Miliar

- 3 Juni 2020, 13:40 WIB
CEO Primajasa, H. Amir Mahpud (kiri) diwawancara wartawan, Rabu (3/6/2020).

BIDANG transportasi, khususnya usaha angkutan penumpang, menjadi salah satu usaha yang paling terdampak dari mewabahnya Covid-19. Sejak ditetapkannya pandemi Covid- 19, angkutan bus mulai tidak dioperasionalkan.

CEO Primajasa, H. Amir Mahpud mengungkit soal relaksasi operasional transportasi massal dari pemerintah. Ia menyatakan pihaknya tidak akan mengoperasionalkan bus karena lebih mengutamakan keselamatan masyarakat dan kru. Padahal di sisi lain, Amir menyebut pihaknya merugi hingga Rp 45 miliar per bulan.

"Sejak ada pelonggaran pun tidak mau memaksakan beroperasi. Yang perlu diselamatkan itu SDM, kru dan masyarakat pemakai jasa angkutan,” tutur Amir, Rabu (3/6/2020).

Saat ini, Primajasa memiliki kurang lebih seribu unit bus yang beroperasi di tiga provinsi, yakni Jabar, DKI Jakarta dan Banten. "Meski harus kehilangan pendapatan yang besar, kami yakin Allah dalam hal ini sedang menginstal ulang kehidupan kita. Mana yang bisa bertahan dalam masa sulit ini," katanya.

Meski begitu, ujar Amir, selama Covid-19, hak karyawan tetap dipenuhi. Tidak ada satupun karyawan yang kena PHK, apalagi sampai pengurangan THR atau gaji dipotong. Ada sebanyak 5.000 karyawan yang bekerja di Primajasa.

Kembali disinggung kapan akan beroperasi, Amir menyatakan lebih memilih untuk melihat grafik covid-19 turun ketimbang risiko kesehatan masyarakat. Karena sampai saat ini secara nasional grafik masih terus meningkat dan belum menuju penurunan signifikan.

"Prediksi saya bisa Desember tahun ini grafik covid baru turun. Namun ekonomi akan kembali normal sampai benar normal seperti sebelumnya itu di 2024,” katanya.

Ia mengatakan dampak covid-19 juga tak hanya memukul sektor transportasi angkutan penumpang, juga properti dan wisata. "Saya yakin pengusaha yang bisa bertahan itu, benar-benar juara bertahan menghadapi covid di kehidupan normal benar-benar normal nanti,” ujarnya.

Editor: Lucky M. Lukman


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X