Sebut Perang Libya untuk Hancurkan Tentara Mesir, Ahli Strategi: Turki Ingin Pulihkan Kekhalifahan

- 1 Agustus 2020, 14:14 WIB
Ahli strategi Militer Mesir Mayjen Nagy Shohood, menuduh Turki campur tangan di Libya untuk melanjutkan impiannya memulihkan kekhalifahan Ottoman. /


GALAMEDIA - Mesir tidak akan terseret ke dalam perang Libya yang dirancang untuk menghancurkan tentara Mesir, ucap seorang ahli strategi militer terkemuka di Kairo kepada Arab News.

Mayjen Nagy Shohood, seorang ahli strategis dan penasihat di Akademi Militer Nasser, menuduh Turki campur tangan di Libya untuk melanjutkan impiannya untuk memulihkan kekhalifahan Ottoman.

Ankara berusaha membangun kehadirannya di Libya dengan menciptakan pangkalan angkatan laut dan udara, dan tidak bekerja sendiri tetapi juga dengan bantuan Amerika Serikat dan Rusia, tambahnya.

“Turki telah mendirikan pangkalan di Somalia, lalu Qatar, dan kemudian pindah ke Libya. Erdogan masih memimpikan kekaisaran Ottoman," ujarnya seperti dilansir Arab News, Sabtu (1/8/2020).

Baca Juga: Ribuan Kendaraan 'Menyerbu' Lembang, Perjalanan dari Bandung Butuh Waktu 2 Jam

Shohood mengatakan bahwa wilayah itu "harus dibagi dalam satu atau lain cara," ketika Eropa dan AS menyetujui rencana yang diumumkan oleh mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice pada 2005.

“Turki adalah sarana untuk mengimplementasikan rencana ini di Suriah dan Irak. Turki beroperasi di wilayah di mana sabotase sedang berlangsung dan Suriah telah dibagi oleh ideologi dan kesukuan melalui Turki, yang tidak datang untuk berperang di Libya tetapi untuk berkoordinasi dan setuju dengan pihak lain,” katanya.

Shohood mengatakan bahwa Turki tidak mungkin mengambil tindakan militer di Libya karena sulit untuk berjuang ratusan mil jauhnya dari wilayahnya sendiri.

Baca Juga: Banding Dikabulkan, Pelaku Bom Maraton Boston Lolos dari Hukuman Mati

“Mereka mencapai apa yang mereka inginkan dengan penyewa yang bekerja dengan keahlian dan kemampuan Turki. Kehadiran semi-permanen Turki di pangkalan udara dan angkatan laut Libya diperlukan."

Halaman:

Editor: Dicky Aditya


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X