Terungkap, 2.750 Ton Amonium Nitrat yang Meledak di Beirut Hendak Dikirim ke Mozambik

- 5 Agustus 2020, 20:18 WIB
Helikopter memadamkan api di lokasi ledakan di kawasan pelabuhan di Beirut, Ibu Kota Lebanon, Selasa (4/8/2020). Sebanyak 73 orang tewas dan ribuan lainnya dilaporkan terluka dari insiden dua ledakan besar yang mengguncang Beirut tersebut. /AFP/STR/AFP

GALAMEDIA - Penyelidikan awal menunjukkan kelalaian dalam ledakan yang menewaskan lebih dari 100 orang di Beirut, Lebanon, pada Selasa, 4 Agustus 2020. Diketahui, tidak ada pula tindakan selama bertahun-tahun atas penyimpanan bahan yang sangat eksplosif di Pelabuhan Beirut.

Perdana menteri dan presiden Lebanon menyatakan, 2.750 ton amonium nitrat, yang biasa digunakan untuk pupuk dan bom, telah disimpan selama enam tahun di pelabuhan tanpa langkah-langkah keamanan.

"Ini adalah kelalaian," kata seorang sumber pemerintah kepada Reuters.

Sumber itu menambahkan, masalah keamanan penyimpanan telah dibawa ke beberapa komite dan hakim. Namun, "tidak ada yang dilakukan" untuk mengeluarkan perintah pemindahan atau pembuangan bahan mudah terbakar itu.

Baca Juga: Anang-Ashanty Beli Dua Mobil 'Maung' Pindad untuk Seserahan Aurel-Atta Halilintar

Sumber itu mengatakan api mulai membakar gudang nomor 9 di pelabuhan dan menjalar ke gudang 12, di mana amonium nitrat disimpan.Baca Juga: Gojek dan Unilever Indonesia Luncurkan Program Sahabat Sekolah di Bandung Raya

Ledakan tersebut adalah yang paling kuat yang pernah diderita oleh Beirut. Padahal kota ini masih dilanda perang saudara sejak tiga dasawarsa lalu.

Bahkan kini Beirut terhuyung-huyung akibat krisis keuangan yang dalam dan berakar pada korupsi selama puluhan tahun.

Direktur Jenderal Bea Cukai Lebanon Badri Daher mengatakan kepada penyiar LBCI pada Rabu, 5 Agustus 2020, bahwa bea cukai telah mengirim enam dokumen ke pengadilan, memperingatkan bahwa bahan itu menimbulkan bahaya.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X