Filipina Masuk Jurang Resesi Ikuti Singapura, Siapa Bakal Menyusul?

- 6 Agustus 2020, 11:22 WIB
Dokter dan perawat di Filipina mengaku kewalahan menghadapi penambahan pasien virus corona. Filipina pun kini masuk jurang resesi, pertama kalinya sejak 29 tahun terakhir. /

GALAMEDIA - Ekonomi Filipina anjlok lebih dalam dari yang diperkirakan pada kuartal kedua. Negara itu kini jatuh ke dalam resesi untuk pertama kalinya dalam 29 tahun, menyusul Singapura yang sudah lebih duluan.

Kondisi tersebut tak lepas dari aktivitas ekonomi yang terpukul oleh kebijakan karantina wilayah. Kebijakan karantina wilayah yang dilakukan pemerintah Filipina merupakan salah satu penguncian terpanjang dan terketat di dunia untuk mengatasi penyebaran Covid-19.

Ekonomi negara Asia Tenggara itu menyusut 16,5 persen pada April-Juni dari periode yang sama tahun lalu. Ini menjadi penurunan terbesar dalam data PDB triwulanan pemerintah sejak tahun 1981.

Baca Juga: Dampak Pandemi, Hadiah US Open 2020 Dipotong Lebih dari Rp 52 Miliar

Otoritas Statistik Filipina mengatakan pada hari Kamis, 6 Agustus 2020. Menurut mereka, produk domestik bruto turun lebih dari perkiraan kontraksi 9 persen dalam jajak pendapat Reuters dan lebih buruk dari penurunan yang direvisi sebesar 0,7 persen pada kuartal pertama.

PDB yang disesuaikan secara musiman turun 15,2 persen pada kuartal kedua dari tiga bulan pertama tahun ini. Pukulan ekonomi dari pandemi dapat memburuk dengan pemerintah memberlakukan kembali kontrol karantina yang lebih ketat di ibu kota Manila dan provinsi terdekat selama dua minggu mulai Selasa di tengah bangkitnya kembali kasus virus corona.

"Ekonomi Filipina jatuh ke dalam resesi dengan kehancuran Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua yang menunjukkan dampak destruktif dari penguncian pada ekonomi yang bergantung pada konsumsi," kata ekonom senior ING Nicholas Antonio Mapa.

Baca Juga: Erick Thohir Pertegas Rencana Pegawai Swasta Bergaji di Bawah Rp 5 Juta Diberi Bantuan Rp 600 Ribu

"Dengan rekor pengangguran tertinggi yang diperkirakan akan naik dalam beberapa bulan mendatang, kami tidak mengharapkan perputaran cepat dalam perilaku konsumsi, terlebih lagi dengan kasus Covid-19 yang masih meningkat," lanjutnya.

Halaman:

Editor: Lucky M. Lukman


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X